PDIP Terang-terangan Tolak Jokowi Tiga Periode: Kami Menarik Diri dari Agenda Tersebut!

PDIP Terang-terangan Tolak Jokowi Tiga Periode: Kami Menarik Diri dari Agenda Tersebut! Kredit Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay

Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah menyatakan Fraksi PDIP di MPR tetap menolak perpanjangan masa jabatan presiden hingga toha periode dalam pembahasan amandemen UUD 1945. Basarah tak ingin amandemen menyentuh ranah jabatan Presiden.

Basarah hanya mendukung bila amandemen dilakukan secara terbatas, yaitu penambahan satu ayat di Pasal 3 UUD 1945 mengenai MPR. Isinya agar MPR diberi wewenang menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

"Kalau ada agenda di luar itu (1 ayat di Pasal 3 UUD 1945), secara tegas PDIP menarik diri dari agenda tersebut. Apalagi misalkan gagasan tentang masa jabatan presiden ditambah menjadi tiga periode, ini jauh dari pandangan dan sikap politik, baik kami di MPR khususnya kami di PDIP," kata Basarah dalam konferensi pers dan paparan survei SMRC pada Minggu (20/6/2021).

Baca Juga: Celetukan Nyelekit Rocky Gerung Soal Wacana Jokowi Tiga Periode: Hanya Ide Konyol!

Basarah mengungkapkan urgensi kewenangan MPR dalam menentukan GBHN. "Gagasan kami adalah amandemen terbatas, terbatas itu artinya dia tidak mau melebar kemana-mana, hanya menambah satu ayat di pasal 3 UUD 1945, yaitu MPR diberikan wewenang untuk menetapkan haluan negara dan haluan pembangunan nasional," kata Basarah.

Pendapat Basarah merujuk kepada sikap Presiden Jokowi terkait wacana 3 periode. Basarah menyimpulkan pengusung ide tiga periode Presiden dapat dipilah jadi tiga kategori yaitu orang yang ingin cari muka, orang yang ingin menampar wajah Jokowi. dan orang yang ingin menjerumuskan Jokowi.

Baca Juga: Menolak Jokowi Tiga Periode, Yang Berani Silahkan Buat Gerakan Tandingan

"Kalau subjeknya (Presiden Jokowi) saja sudah tidak mau, kemudian kami dari partai tempat pak Jokowi bernaung juga tidak menginginkan konstitusi kita diubah hanya untuk kepentingan orang per orang," ujar Ketua DPP PDI Perjuangan itu.

Baca Juga: Satu Tahun Jadi Juru Bicara: Ini Bukan tentang Angka

Baca Juga: Ahli Virologi dan Molekuler Biologi: Semua Vaksin Covid-19 Aman dan Sudah Diuji

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini