Ada Usulan Divaksin Sampai Tiga Kali, Setuju?

Ada Usulan Divaksin Sampai Tiga Kali, Setuju? Kredit Foto: Antara/Adiwinata Solihin

Banyak tenaga kesehatan (nakes) dokter di Tanah Air yang terpapar Covid-19 padahal telah mendapatkan vaksin dosis lengkap dan muncul wacana vaksinasi ulang (booster) ketiga.

Kendati demikian, Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengatakan, belum ada pembahasan vaksinasi ulang Covid-19 dosis ketiga untuk nakes dokter karena belum ada penelitian mengenai hal ini.

"Belum ada data atau literatur penelitian termasuk di jurnal mengenai nakes disuntik dosis ketiga vaksin Covid-19," kata Ketua Tim Advokasi Pelaksanaan Vaksinasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Iris Rengganis dikutip dari Republika, Ahad (20/6).

Kendati demikian, ia mengakui, wacana ini jadi salah satu pemikiran beberapa ahli, termasuk China. Menurutnya, wawasan mengenai hal ini perlu dipikirkan, apalagi ada varian baru virus yaitu delta. 

Dia mengutip pernyataan dari ahli bahwa vaksin AstraZeneca dan Pfizer cukup baik untuk mutasi virus ini. Kendati demikian, dia melanjutkan, PB IDI memilih menunggu rekomendasi Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional (Itagi) dan organisasi kesehatan dunia PBB (WHO).

"Kemudian kami (IDI) akan mengikuti rekomendasi IDI dan Itagi. Kami juga melihat ketersediaan vaksin Covid-19 Sinovac," kata Iris.

Sebab, dia melanjutkan, vaksinasi merek lain seperti Pfizer belum dimulai di Tanah Air atau suntikan vaksin Astra Zeneca masih tiga bulan lagi. Jadi, kalaupun mengulang vaksinasi maka nakes menggunakan vaksin Sinovac. 

"Tetapi kalau nantinya nakes yang sudah mendapatkan vaksin Sinovac bisa divaksin ulang menggunakan merek lain, kami juga menunggu rekomendasi WHO dan Itagi juga. Karena penelitian menggunakan (jenis atau merek) vaksin yang berbeda kan belum ada," kata dia.

Intinya, IDI memilih menunggu semua rekomendasi itu. Kemudian IDI mengikuti rekomendasi itu dan membahasnya sebelum kemudian mengeluarkan rekomendasi final.

"Kemudian kami kerja sama dengan pemerintah seperti Kementerian Kesehatan (dalam menyampaikan rekomendasi)," kata Iris.

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini