Jokowi Tiga Periode? Begini Kata Pendukung Prabowo

Jokowi Tiga Periode? Begini Kata Pendukung Prabowo Kredit Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay

Pemilih Prabowo Subianto pada Pemilu Presiden 2019 ternyata sangat tidak setuju apabila Joko Widodo (Jokowi) kembali maju sebagai calon Presiden Republik Indonesia untuk ketiga kali pada Pemilu 2024 nanti. Hal itu berdasarkan hasil survei yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

Direktur Komunikasi SMRC, Ade Armando, mengatakan bahwa persentase pemilih Jokowi dan Prabowo pada Pemilu Presiden 2019 ternyata sama-sama tinggi yang menyatakan bahwa masa jabatan presiden maksimal hanya dua kali (dua periode). Menurut dia, pendukung Jokowi ada 70 persen mendukung masa jabatan presiden dua periode.

Baca Juga: Soal Jabatan Presiden Tiga Periode, Demokrat: Nyatakan Saja Sekarang Sikapnya

"Pendukung Prabowo sebanyak 82 persen lebih tinggi. Namun, mayoritas mutlak menyatakan jangan diubah tuh masa jabatan Presiden maksimal dua kali," kata Ade Armando saat diskusi virtual pada Minggu, 20 Juni 2021.

Akan tetapi, Ade mengatakan bahwa ada hal yang berbeda ketika Jokowi harus kembali maju menjadi calon Presiden untuk ketiga kalinya pada Pemilu 2024 mendatang. Menurut dia, sebanyak 55 persen pemilih setuju Jokowi maju kembali sebagai calon Presiden 2024; tidak setuju ada 38 persen; dan tidak tahu/tidak jawab cuma 7 persen.

"Kelompok para pemilih Prabowo definitive, 86 persen menyatakan tidak setuju Jokowi maju sebagai calon presiden 2024, setuju cuma 9 persen, tidak tahu/tidak jawab ada 5 persen," ujarnya.

Sementara, kata Ade, sikap publik terhadap masa jabatan presiden menurut demografi bahwa lulusan Perguruan Tinggi (PT) sebanyak 75 persen tidak setuju jika Jokowi kembali maju sebagai calon Presiden pada 2024; setuju cuma 20 persen; dan tidak tahu/tidak jawab ada 5 persen.

"Namun, latar belakang pendidikan SD, angkanya cuma 45 persen yang tidak setuju Jokowi maju, setuju ada 45 persen, tidak tahu/tidak jawab cuma 10 persen. Jadi, perguruan tinggi cenderung mengatakan tidak setuju," jelas dia.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Viva Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Viva. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Viva.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini