Keyakinan Demokrat: Yakin! Jokowi Tiru SBY

Keyakinan Demokrat: Yakin! Jokowi Tiru SBY Kredit Foto: Antara/Puspa Perwitasari

Partai Demokrat optimis wacana tiga periode untuk masa jabatan Presiden dan Wakil Presiden akan kandas. Partai berlambang Bintang Mercy ini sangat yakin, Presiden Jokowi tidak berkenan menjabat lagi.

"Beliau sudah berulang kali menolak rencana tiga periode. Janganlah beliau kemudian dijebak, dipancing-pancing mengamputasi demokrasi, dan menghancurkan cita-cita reformasi," ujar Juru Bicara Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Baca Juga: Kalau Jokowi Setuju 3 Periode, Waduh! Megawati Pasti Marah

Kepala Badan Komunikasi Strategis (Bakomstra) DPP Partai Demokrat ini menganalisis, Presiden Jokowi pun ingin dikenang sebagai pemimpin demokratis laiknya Presiden Indonesia keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Begitu habis masa jabatannya, tidak lagi ingin mengubah konstitusi agar dapat berkuasa kembali.

Alumni Universitas Indonesia itu juga menyesalkan wacana presiden tiga periode. Sebab, hal itu hanya membuat regenerasi kepemimpinan menjadi mandek. Padahal, Indonesia memiliki banyak calon pemimpin berkualitas. Termasuk, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang namanya selalu muncul di bursa Pilpres 2024.

"Ada Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo dari deretan kepala daerah yang berprestasi, lalu Airlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar, hingga Puan Maharani," sebutnya.

Soal wacana presiden tiga periode itu juga kembali ditentang pihak Istana Negara. Juru Bicara Presiden Jokowi, Fadjroel Rachman, menegaskan bahwa Presiden patuh terhadap Undang-Undang Dasar 1945 dan menolak gagasan masa jabatan tiga periode.

"Mengingatkan kembali, Presiden Jokowi tegak lurus pada konstitusi Undang-Undang Dasar 1945 dan setia terhadap Reformasi 1998," ujarnya, Sabtu (19/6).

Fadjroel juga mengulang kembali penegasan Presiden Jokowi saat berpidato pada 12 Februari 2019. "Ada yang ngomong presiden dipilih tiga periode itu, ada 3 (motif) menurut saya. Satu, ingin menampar muka saya. Yang kedua ingin cari muka, padahal saya sudah punya muka. Ketiga, ingin menjerumuskan. Itu saja," katanya, mengutip Jokowi.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini