Dengan Tegas China Tutup Surat Kabar Pro-Demokrasi, Aset Dibekukan, Pemiliknya Dibui!

Dengan Tegas China Tutup Surat Kabar Pro-Demokrasi, Aset Dibekukan, Pemiliknya Dibui! Kredit Foto: Twitter/hongkongpen

Surat kabar pro-demokrasi Hong Kong, Apple Daily akan terpaksa ditutup dalam hitungan hari setelah pihak berwenang membekukan aset perusahaan di bawah undang-undang keamanan nasional. Pemiliknya, Jimmy Lai sudah dipenjara dan ini disampaikan langsung oleh seorang penasihatnya.

Penutupan Apple Daily ini akan merusak reputasi bekas jajahan Inggris sebagai masyarakat yang terbuka dan bebas. Selain itu juga mengirim peringatan kepada perusahaan lain yang dapat dituduh berkolusi dengan negara asing.

Sementara itu, dilansir dari CNBC International di Jakarta, Senin (21/6/21) penasihat Next Digital, Mark Simon, penerbit surat kabar terlaris berusia 26 tahun itu akan mengadakan rapat dewan untuk membahas bagaimana bergerak maju setelah jalur kreditnya dibekukan.

Baca Juga: Sosok Jack Ma Bikin Anak Muda Tertekan, Rebahan Jadi Tren Baru di China

“Kami pikir kami bisa sampai akhir bulan. Itu hanya semakin sulit. Ini pada dasarnya hanya dalam hitungan hari.” ujarnya.

Apple Daily mengatakan pembekuan asetnya telah meninggalkan uang tunai selama beberapa minggu untuk operasi normal. Pemimpin Redaksi Ryan Law (47), dan Chief Executive Cheung Kim-hung (59), ditolak jaminannya setelah didakwa berkolusi dengan negara asing.

Tiga eksekutif lainnya juga ditangkap ketika 500 petugas polisi menggerebek kantor surat kabar itu yang menuai kecaman dari negara-negara Barat, kelompok hak asasi global dan juru bicara hak asasi manusia PBB. Ketiganya masih dalam penyelidikan namun sudah dibebaskan dari tahanan polisi.

Pejabat Hong Kong dan China mengatakan kebebasan pers tidak dapat digunakan sebagai “perisai” bagi mereka yang melakukan kejahatan, dan mengecam kritik itu sebagai “campur tangan.”

Pada bulan Mei, Reuters melaporkan secara eksklusif bahwa kepala keamanan Hong Kong telah mengirim surat kepada taipan Lai dan cabang-cabang HSBC dan Citibank yang mengancam hingga tujuh tahun penjara untuk setiap transaksi dengan rekening miliarder di kota itu.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini