Masih Banyak yang Skeptis tentang Cloud, FDS: Perlu Bantuan dari Regulator

Masih Banyak yang Skeptis tentang Cloud, FDS: Perlu Bantuan dari Regulator Kredit Foto: Alibaba

Kompetisi digital-first, siapa yang mampu beradaptasi dan menggunakan teknologi digital terlebih dahulu, akan menentukan pemenang dalam persaingan antara berbagai lembaga keuangan.

Dengan kata lain, agar dapat menjawab kebutuhan pelanggan masa kini dan bersaing dengan fintech, neobank, dan institusi finansial model baru yang bermunculan di era digital, perbankan dan lembaga keuangan tradisional lainnya mau tidak mau harus mengadopsi teknologi digital seperti

Baca Juga: Bidik UMKM, IDCloudHost Luncurkan 2 Produk Baru cloud.

Meski begitu masih banyak yang skeptis tentang teknologi cloud terutama tentang aspek keamanan.

"Kita butuh adanya sosialisasi dan kita perlu kerja sama dengan regulator agar makin bisa diartikulasikan sehingga para pelaku industri maupun korporasi baik yang ada di industri finansial atau pun di tempat lain mengerti bahwa komputasi awan itu saat ini sudah bukan menjadi isu lagi di sisi keamanan dan privasi data," kata Sutjahyo Budiman, President Director, PT Fortress Data Services (FDS) dalam konferensi pers virtual kemarin, Rabu (23/6/2021).

Keputusan FDS untuk bermigrasi ke cloud didasari oleh kuatnya dorongan pemerintah, regulator, dan pasar menuju digitalisasi.

Satu pertanyaan yang sering dilayangkan oleh penyedia layanan finansial mengenai penggunaan infrastruktur cloud adalah tentang keamanan data nasabahnya. 

Dari segi keamanan, FDS memercayakan Amazon Web Services (AWS) yang telah menjalankan praktik-praktik terbaik dan patuh terhadap standar-standar global. Selain menjaga keamanan infastruktur, AWS juga menyediakan tools keamanan yang dapat dimanfaatkan oleh pelanggannya untuk mengamankan aplikasi dan data mereka di cloud. 

“AWS memiliki berbagai fitur yang dilengkapi dengan teknologi terkini, memiliki standar keamanan yang tinggi dalam menjaga privasi data nasabah, dan sangat mendukung kami dalam melakukan migrasi aplikasi dari tradisional menjadi cloud-agnostic. Bagi FDS sendiri khususnya, kami merasakan bahwa AWS memberikan bantuan dalam bentuk peningkatan kapabilitas SDM perusahaan, sehingga kami bisa memahami dan mengerjakan semua pekerjaan yang berhubungan dengan cloud,” terang Sutjahyo. 

Dari segi kecepatan, FDS tidak perlu lagi melakukan pengadaan hardware yang memakan waktu sekitar 4 hingga 6 minggu dan perlu dilakukan setiap terjadi penambahan. Sekarang, FDS mampu menambahkan 70 sekolah, 10 pesantren, dan sistem untuk 7 ribu toko dan warung dalam waktu 2 bulan saja.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini