Presiden Terbunuh, Haiti Kumandangkan Keadaan Darurat Mendesak

Presiden Terbunuh, Haiti Kumandangkan Keadaan Darurat Mendesak Kredit Foto: AP Photo/Dieu Nalio Chery

Presiden Haiti Jovenel Moïse ditembak mati oleh orang-orang bersenjata dengan senapan serbu di kediaman pribadinya pada Rabu (7/7/2021) malam. Tragedi ini memicu kekhawatiran akan berlanjutnya kekacauan di negara Karibia yang miskin itu saat perburuan sedang berlangsung.

Pembunuhan itu, yang mendapat kecaman dari Ottawa, Washington dan negara-negara tetangga Amerika Latin. Tragedi yang terjadi di tengah kerusuhan politik, gelombang kekerasan geng dan krisis kemanusiaan yang berkembang di negara termiskin di Amerika itu.

Baca Juga: Pembunuhan Presiden Haiti Jovenal Moise Sebagian Terekam dalam Video Ini

Dilansir CBC.ca, Kamis (8/7/2021), pemerintah mengumumkan keadaan darurat selama dua minggu untuk membantu memburu para pembunuh. Duta besar Haiti untuk Amerika Serikat (AS), Bocchit Edmond, menggambarkan mereka sebagai sekelompok "tentara bayaran asing" dan pembunuh terlatih.

Orang-orang bersenjata itu berbicara bahasa Inggris dan Spanyol, kata Perdana Menteri sementara Claude Joseph, yang mengambil alih kepemimpinan negara, di mana mayoritas berbicara bahasa Prancis atau Kreol Haiti.

"Rekan-rekan saya, tetap tenang karena situasi terkendali," kata Joseph dalam pidato yang disiarkan televisi, didukung oleh deretan pejabat berwajah muram. "Pukulan ini telah melukai negara ini, bangsa ini, tetapi tidak akan dibiarkan begitu saja."

Haiti, sebuah negara berpenduduk sekitar 11 juta orang, telah berjuang untuk mencapai stabilitas sejak jatuhnya kediktatoran dinasti Duvalier pada tahun 1986, dan telah bergulat dengan serangkaian kudeta dan intervensi asing.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini