The Power of Baca Sampai Tuntas Eps 4: Wisnu Nugroho

The Power of Baca Sampai Tuntas Eps 4: Wisnu Nugroho Kredit Foto: Instagram/Wisnu Nugroho

Budaya membaca menjadi fondasi dasar bagi pendidikan suatu bangsa. Tingginya budaya membaca dapat membuat seseorang lebih memahami dan menguasai suatu ilmu pengetahuan. Tapi, menjadi kegagalan tersendiri bagi suatu bangsa yang tak berhasil menciptakan sebuah generasi yang mengedepankan budaya membaca.

Budaya membaca di Indonesia sendiri terbilang masih memprihatinkan. Bahkan, Indonesia pernah menduduki peringkat kedua dari bawah soal literasi dunia. Dibandingkan negara-negara lain di dunia, tingkat literasi masyarakat Indonesia, baik kalangan anak-anak maupun orang dewasa terpuruk di level terbawah.

Baca Juga: The Power of Baca Sampai Tuntas Eps 3: Metta Dharmasaputra

Bahkan, sudah banyak data tentang literasi yang menunjukkan minimnya minat baca di Indonesia. Seperti penelitian yang dilakukan oleh PISA rilisan OECD (2015), Indonesia menduduki peringkat 62 dari 70 negara yang disurvei. UNESCO juga menyebut, Indonesia berada di urutan kedua dari bawah dalam hal literasi.

Namun, keadaan ini justru berbanding terbalik dengan keaktifan masyarakat Indonesia dalam menggunakan media sosial yang bisa disebut sangat tinggi. Timpangnya tingkat literasi membaca dengan keaktifan bermedia sosial menjadi salah alasan mengapa banyak masyarakat masih mudah termakan berita hoaks.

Berangkat dari gambaran tersebut, Warta Ekonomi Group yang terdiri atas WartaEkonomi.co.id dan HerStory.co.id, menginisiasi sebuah gerakan #BacaSampaiTuntas untuk turut menggaungkan literasi di Indonesia. 

Melalui gerakan #BacaSampaiTuntas, Warta Ekonomi Group mengajak masyarakat untuk membudayakan membaca informasi secara tuntas sehingga pemahaman yang diterima menjadi utuh dan menyeluruh. Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat membentengi diri dari informasi yang bersifat provokatif maupun informasi yang tidak benar.

Sebagai bagian dari campaign #BacaSampaiTuntas, Warta Ekonomi Group melakukan bincang-bincang dengan Chief Editor Kompas.com, Wisnu Nugroho. Berikut ini merupakan hasil bincang-bincang jurnalis Warta Ekonomi Group Nada Saffana bersama dengan Wisnu Nugroho.

Bagaimana tanggapan Mas Wisnu terhadap kondisi literasi dan minat baca di Indonesia, yang terbilang masih sangat minim?

Mungkin ini menjadi budaya kita dalam perjalanan atau sejarah bangsa. Budaya baca sepertinya bukan menjadi budaya yang tumbuh dan dihidupi oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat kita lebih cenderung memiliki kultur menonton dan mendengar. Semua nilai-nilai dalam kehidupan yang ingin disampaikan kepada generasi berikutnya itu biasanya disampaikan melalui tontonan. Misalnya di budaya Jawa sendiri, pagelaran wayang menjadi contoh bentuk tontonan, meskipun dalangnya tetap membaca cerita tersebut. Kemudian kisah lainnya disampaikan dengan cara diujarkan.

Saya tidak menilai baik atau buruk dengan negara kita menempati posisi dua terbawah dalam hal kemampuan membaca, karena bisa jadi itu merupakan suatu keunggulan. Tetapi memang jika dibandingkan dengan negara lain yang kemampuan membacanya lebih tinggi, mungkin kita tertinggal. Jadi, budaya kita yang sejak awal lebih menekankan pada menonton dan mendengar itu bisa jadi alasan mengapa UNESCO dan berbagai survei lainnya menilai tradisi membaca masyarakat Indonesia kurang tinggi.

Bisa dibilang, literasi membaca yang minim itu disebabkan oleh berbagai faktor. Sebagai bagian dari media, langkah pasti apa yang bisa dilakukan demi menyelamatkan literasi membaca di Indonesia?

Kita bisa memberikan argumentasi, karena jika dipaksakan maka tidak dapat bertahan lama. Saya dan mungkin banyak orang pernah mengalami ini. Ketika dia melakukan sesuatu itu karena sadar dan mendapatkan manfaatnya, kemudian manfaat tersebut diargumentasikan secara baik maka orang akan menjadi tergerak. Mungkin di awal bisa diberikan semacam penetapan atau keharusan. Tetapi setelah keharusan ini dirasa memberi manfaat, orang tidak lagi merasa terpaksa melakukan hal tersebut.

Jadi jika ingin menumbuhkan minat baca maka kita perlu meyakinkan kepada orang-orang yang ingin kita ajak untuk membaca agar bisa mendapat manfaat secara argumentatif. Misalnya, bisa melatih kita lebih peka, memahami dunia lebih utuh, membuat analisis lebih kaya, atau membuat kebijaksanan hidup diisi dengan pertimbangan yang lebih banyak. Hal-hal seperti ini yang seharusnya diberikan.

Saya tidak mengatakan jika menonton atau mendengar tidak memiliki manfaat baiknya. Tetapi memang membaca itu lebih simpel dan tidak butuh perangkat apapun, cukup buku atau bahan bacaan saja.

Bagaimana cara meningkatkan minat untuk membaca? Adakah tips tertentu agar terlatih untuk 'betah' membaca?

Kalau orang tidak sanggup hening atau tidak sanggup sendiri, maka akan sulit untuk mengajak orang membaca. Karena membaca itu pengalaman sendiri atau pengalaman hening. Jika setiap dua menit rasanya gatal ingin memegang handphone maka agak sulit untuk mengandalkan agar orang tersebut mau membaca.

Tipsnya bagaimana? Latih dulu orang yang ingin diajak agar bisa hening dan tidak melakukan aktivitas yang bisa mengganggu konsenterasinya. Setelah dia mampu hening dan berdiam sendiri, beri dia contoh atau setidaknya jenis-jenis bacaan yang sebanding dengan waktu dan kesendirian yang dia berikan. Selain mendapat pengalaman yang asyik saat sedang membaca, orang akan lebih tenang, tidak reaktif tetapi responsif. Ketiga hal ini yang membantu saya untuk menumbuhkan kebiasaan membaca buku.

Menurut Mas Wisnu, bagaimana era digital dapat memengaruhi minat baca masyarakat?

Ada pengaruhnya. Platform digital atau social media akan saling berebut pengaruh atau perhatian dari audiens. Ketika saling berebut, lahirlah ribuan atau bahkan jutaan konten. Dengan banyaknya konten yang hadir, maka platform digital tersebut akan sesegera mungkin menarik perhatian audiens. Akibatnya adalah bukan keutuhan yang disampaikan, tetapi sesuatu yang ada dipermukaan saja atau sesuatu yang sensasional.

Efek atau keinginan untuk menampilkan sesuatu yang menarik itu kadang-kadang mengabaikan keutuhan. Biasanya orang akan tidak sabar menunggu agar bisa membaca inti konten tersebut. Jika orang tersebut keliru dalam mencerna inti pesan yang dimaksud, maka dia bisa tersesat.

Misalnya Instagram meluncurkan Reel yang saat ini sedang ramai digunakan. Karena ada serbuan dari TikTok, maka dia secepat mungkin memikat orang dalam kurun waktu 8 hingga 20 detik saja. Jika lebih dari itu, maka orang tidak akan melihatnya. Kecenderungan untuk meringkaskan atau membuat pendek itu yang terkadang bisa mengabaikan ketuntasan.  

Menurut Mas Wisnu, bisakah budaya membaca dimulai dari sosial media?

Bisa saja, tergantung dari akun apa yang dia pilih. Kenapa ini penting? Karena itu akan menjadi jaringan algoritma yang akan menghampiri akun kita setiap harinya. Kita bisa mengikuti akun yang bermanfaat untuk membantu followers-nya mendapatkan informasi secara utuh. Misalnya saya mengikuti akun penerbit buku. Setiap harinya, dia me-review buku, apa isinya, siapa pengarangnya, dan kenapa buku ini menarik dengan lima atau tujuh slide.

Warta Ekonomi Group belum lama ini membuat artikel mengenai tipe-tipe orang baca berita, dan mayoritas warganet mengaku bahwa mereka merupakan tipe (1) baca judul doang dan (2) malas membaca tetapi rajin komen. Mengapa itu bisa terjadi dan bagaimana tanggapan Mas Wisnu akan hal tersebut?

Banyak orang yang merasa ahli jika menggunakan social media. Bahkan jika sudah mendapat informasi sedikit saja, rasanya sudah seperti menguasai dunia. Ketika sudah punya perasaan seperti dan akan memicu pengetahuan yang dimiliki, maka dia akan mengkomentari segala hal. Dalam pepatah, ini sama halnya dengan air beriak tanda tak dalam.

Jika seseorang mudah berkomentar atau mudah sekali terpancing untuk menyampaikan sesuatu, maka dapat digambarkan seperti saat kita melempar batu ke air yang dangkal maka akan langsung beriak. Tetapi jika kita melempar batu ke air yang dalam, maka tidak akan terdengar bunyi apapun. Ini sebenarnya penilaian pribadi. Namun kembali lagi, masyarakat kita itu lebih senang berbicara.

Menurut Mas Wisnu, mengapa #BacaSampaiTuntas itu penting?

Kalau informasinya penting ya harus dituntaskan supaya kita mendapatkan keutuhan informasi. Tetapi jika informasinya tidak penting ya tidak harus dituntaskan dan bisa ditinggalkan. Ini juga pentingnya untuk memilih. Kita perlu memilah informasi yang tepat. Misalnya ketika banjir datang, hal yang perlu kita singkirkan adalah sampah. Begitu pula ketika menemukan bacaan. Ketika menemukan bacaan yang baik dan bagus, maka harus diselesaikan. Tetapi untuk mengetahui suatu bacaan baik atau buruk, mau tidak mau harus kita baca terlebih dulu.

Keputusan untuk menyelesaikan bacaan tersebut atau tidaknya bisa kita lakukan saat berada di tengah-tengah bacaan. Jadi, ini bertujuan agar kita bisa mendapat keutuhan informasi, agar tidak ditelan setengah-setengah.

Budaya #BacaSampaiTuntas bisa diimplementasikan kepada banyak hal, apa sajakah itu?

Buku itu perlu dibaca sampai tuntas. Bukan hanya penting untuk mengetahui informasinya, tetapi ini menjadi latihan ketekunan. Kita berani tidak berkomitmen, lalu menyelesaikan komitmen yang kita sudah ambil di depan. Membaca buku sampai tuntas menjadi bagian dari komitmen tersebut. Terkadang kita hanya impulsif ketika melihat buku bagus langsung dibelanjakan. Ketika sampai rumah, buku tersebut tidak habis dibaca.

Sebenarnya ketika kita sudah memilih buku, maka yang harus dilakukan adalah menuntaskan bacaan tersebut. Tentu saja selain untuk mengetahui isinya, membaca sampai tuntas bisa melatih ketekunan juga, sehingga membuat kita menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah. 

Jika dalam konteks berita dan artikel di media online, menurut Mas Wisnu, bagaimana sih potret masyarakat dalam hal minat baca? Setujukah bila ada yang mengatakan media online jadi salah satu sumber penyebaran berita hoaks?

Kalau media dalam arti jurnalisme, jawabannya tentu tidak, dan saya harus membantah itu dengan keras. Jika media online dalam arti media yang ada di internet, seperti social media, blog, atau platform lain, bisa jadi jawabannya iya. Tetapi tidak bisa dikatakan jika semua media online itu penyebar hoaks. Karena jurnalistik sendiri punya tanggung jawab untuk menjelaskan kepada publik dan menyampaikan kebenaran. Menyampaikan kebenaran ini menjadi ikhtiar dalam melawan hoaks. 

Jika media online dianggap penyebar hoaks, maka dipilah dulu apa medianya, apakah itu melalui media sosial, atau kelompok dalam grup WhatsApp yang disebar ke berbagai platform. Media jurnalistik seperti Kompas.com dan media lainnya pasti punya divisi untuk melakukan debunking atau punya clearing house untuk memverifikasi sebuah informasi apakah benar atau tidak. Itu menjadi tanggung jawab jurnalistik.

Banyak berita hoaks yang bisa dibilang muncul dari media online. Tindakan apa sih yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari media untuk meminimalisir beredarnya berita hoaks?

Masing-masing organisasi bisa membuat tim anti-hoax dengan memverifikasi dan menguji informasi yang belum jelas atau keliru, kemudian menyampaikan informasi yang jelas dan sudah terverifikasi. Proses verifikasi dalam jurnalistik ditempuh dalam tiga cara.

Pertama dengan melakukan riset terhadap banyak hal, misalnya tentang susu beruang yang dikatakan bisa menangkal virus dan membuat panic buying. Media punya tanggung jawab untuk mengklarifikasi hal itu dengan melakukan riset, apa saja kandungan susu tersebut. Setelah riset kita melakukan observasi, kenapa ada banyak orang yang panic buying. Ternyata didapati bahwa ada sebaran hoaks tentang manfaat susu ini bisa menangkal virus. Ketiga, kita melakukan verifikasi dengan wawancara, seperti dengan ahli gizi atau pihak brand yang memiliki susu beruang tersebut. Ini menjadi salah satu usaha yang dilakukan oleh media, terutama bagi para media yang punya kredibilitas dan otoritas yang dinyatakan oleh dewan pers sebagai lembaga media untuk melawan informasi hoaks. Jadi secara jurnalistik kita papakan kebenarannya.

Kedua, sesama media itu bisa membuat jaringan. Kompas.com sejak tahun lalu itu masuk ke dalam jaringan internasional Fact Checking Network. Jadi, semua media yang punya otoritas dan kredibilitas di mata pembacanya itu berjejaring di seluruh dunia untuk saling share informasi yang ada di wilayahnya masing-masing. Terkadang kita bisa mendapat hoaks dari negara lain, sehingga dengan jaringan tersebut, masing-masing punya akses untuk melakukan upaya debunking atau meruntuhkan klaim dari informasi hoaks tersebut.

Ketiga, sebagai pemilik platform seperti Google dan Facebook, mereka punya keinginan juga untuk memberantas hoaks dengan menggandeng media bersama-sama melawan itu. Karena mereka sadar, lewat platform mereka hoaks bisa tersebar dan orang yang tidak bertanggung jawab akan membuat konten melalui platform tersebut. 

Apa harapan Mas Wisnu terhadap peningkatan minat baca dan pemberantasan hoaks di tengah masyarakat?

Harapan saya sebagai publisher adalah literasinya harus meningkat, karena ini akan menguntungkan dalam arti artikel yang kami produksi atau buku yang kami terbitkan itu pasti punya audiens yang lebih banyak. Karena apa yang kami sampaikan itu punya manfaat, misalnya dengan memberi tahu apa yang sedang terjadi, atau peristiwa yang bisa membantu publik dalam mengambil keputusan. Artinya untuk membuat semua audiens bertambah, maka setiap upaya untuk membuat orang lain membaca akan selalu kami support, karena itu akan membangun ekosistem yang lebih sehat untuk organisasi media sendiri. 

Bagaimana caranya? Media jangan sampai terjebak hanya dengan menjual sensasi saja atau clickbait. Mungkin clickbait dalam arti tertentu itu tidak masalah karena bisa mengajak orang untuk membaca, tetapi jika membuat clickbait yang sudah keterlaluan, menurut saya itu akan mencederai dan membuat masyarakat semakin sebal untuk membaca, sehingga tidak punya kesempatan untuk menuntasakan bacaannya.

Satu alasan, mengapa harus membudayakan #BacaSampaiTuntas?

Kalau kalian ingin jadi pribadi yang gigih, tekun, dan setia, kemampuan membaca sampai tuntas akan menghantarkan kalian untuk mendapatkan kecakapan karakter sebagai orang yang gigih, setia, dan tekun. Kemudian, kita punya kesempatan untuk membuat kesimpulan dan membuat keputusan apa pun yang kita peroleh bisa lebih bertanggung jawab karena tidak mengabaikan setiap informasi yang diperoleh.

Tetapi jika kita terburu-buru atau malas, akhirnya kita mengambil keputusan untuk tidak membaca dan mendapatkan informasi secara utuh, dan itu akan berbahaya bagi segala keputusan yang kita ambil.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini