Gabungkan Produk Prabayar, Telkomsel: Pelanggan Gak Usah Khawatir

Gabungkan Produk Prabayar, Telkomsel: Pelanggan Gak Usah Khawatir Kredit Foto: Dok. Telkomsel

Telkomsel melakukan penggabungan nama brand layanan prabayar Telkomsel (simPATI, KartuAs, dan LOOP) menjadi Telkomsel Prabayar sejak 18 Juni lalu.

Bagi pelanggan setia produk Prabayar dan Pascabayar yang sudah menggunakan produk tersebut sebelum adanya perubahan nama dan logo brand menjadi Telkomsel Prabayar dan Telkomsel Halo, akan dapat terus menikmati seluruh layanan, paket produk, dan aturan yang berlaku, tanpa harus mengganti nomor maupun kartu SIM.

“Jadi pelanggan jangan khawatir, tidak ada perubahan dari tata cara penggunaan, fasilitas, semuanya masih bisa digunakan,” kata General Manager Sales dan Digitalization Management Area Jabotabek, Khairil Irfan kepada wartawan pada acara Media Update Telkomsel yang digelar secara virtual, Jumat sore (9/7/2021).

Baca Juga: Telkomsel Hadirkan Hiburan Digital untuk Jurnalis & Berbagai Komunitas di Sumatera

Langkah ini merupakan komitmen Telkomsel sebagai digital telco company guna menguatkan pemenuhan kebutuhan konsumen di bidang digital.

"Dengan adanya perkembangan teknologi dan digitalisasi gaya hidup masyarakat, Telkomsel dulu, kini, dan selalu akan berfokus untuk menyediakan produk dan layanan terbaik bagi pelanggan di seluruh usia, dengan misi dan semangat yang sama yaitu peningkatan gaya hidup digital di Indonesia," ungkapnya.

Telkomsel lebih memilih untuk menghadirkan beragam paket yang disesuaikan dengan kebutuhan dan minat pelanggan. Ketimbang menyediakan multibrand yang terbagi sesuai segmentasi.

"Kami ingin menghadirkan produk dan layanan yang memberikan kemudahan serta kenyamanan bagi para pelanggan," ujarnya.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama Telkomsel meluncurkan pembaharuan identitas logo dan produk barunya.

Logo baru Telkomsel terinspirasi berbagai ukiran motif batik khas Indonesia, yang kemudian dirangkai menjadi sebuah font type khusus milik Telkomsel, yakni Telkomsel Batik Sans.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini