Indonesia Disebut Penjajah, Pemerhati Isu Strategis Buka Suara: Itu Memutarbalikan Sejarah

Indonesia Disebut Penjajah, Pemerhati Isu Strategis Buka Suara: Itu Memutarbalikan Sejarah Kredit Foto: Istimewa

Cendikiawan pemerhati isu-isu strategis, termasuk isu Papua, Prof. Imron Cotan, merespons posting seorang pendeta asal Papua, Dr. Socrates S. Yoman, yang viral di media sosial karena menyebut Indonesia sebagai penjajah yang memadukan rasisme di Tanah Papua.

Menurut Imron, sebagai seorang doktor, pendeta dan tokoh masyarakat, tidak seharusnya Socrates memutarbalikkan sejarah

Imron juga menyatakan terkejut. Menurut dia, sebagai seorang agamawan dan cendikiawan, respons Socrates atas persoalan yang ada di Papua itu justru sangat tidak pantas. Baca Juga: Jabar Fokus Tekan Kasus dan Beban Rumah Sakit

“Oleh karena itulah, agama dan budaya muncul sebagai jawaban, bukan justru dipergunakan untuk mendikotomikan masyarakat, dengan memposisikan diri sebagai korban (playing victim), sementara pihak lain selalu dinggap penindas (oppressor),” katanya dalam keterangan tertulisnya, Minggu (11/7/2021). Baca Juga: Tol Laut Jokowi Maksimalkan Distribusi Persiapan PON XX di Papua

Lanjutnya, ia mengingatkan Indonesia adalah sebuah negara “melting pot”, yang kurang-lebih menjadi rumah bagi kurang-lebih 500 suku-bangsa, etnis, dan ras. “Tidak satu pun suku-bangsa, etnis, atau ras tersebut merasa dirinya lebih rendah dari yang lain. Bahkan, sebagian kecil, diantaranya menganggap suku-bangsa, etnis, atau rasnya lebih “mulia” dari yang lain,” tulis Imron.  Tetapi, kata Imron, hal itu biasanya terbatas pada dugaan (prejudice) seiring kurangnya cakrawala pengetahuan yang ada. Dari sisi kebiasaan, semua suku bangsa di Indonesia umumnya terbuka menerima perbedaan dan bisa hidup dalam perbedaan itu. 

“Contohnya saya, pada awal 1970-an merasa sikap masyarakat Jawa Yogyakarta itu eksklusif. Tetapi, lama-lama saya bisa mengerti dan ternyata itu hanya artifisial, tidak fundamental, justru setelah saya berbaur dan tidak bersikap eksklusif dengan mereka,” kata dia.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini