Rakyat Myanmar Serentak Bilang Ogah pada Bantuan Kesehatan Junta Militer

Rakyat Myanmar Serentak Bilang Ogah pada Bantuan Kesehatan Junta Militer Kredit Foto: Nu.nl

Myanmar berhadapan dengan lonjakan kasus Covid-19 yang membuat pemerintahan junta kewalahan. Terlebih lagi beberapa warga menolak untuk menerima bantuan kesehatan dari militer yang melakukan kudeta pemerintahan Aung San Suu Kyi pada Februari.

Myanmar lambat untuk bangkit dari lonjakan kasus Covid-19 sejak pertengahan Mei. Hal itu membuat banyak orang sakit kewalahan dan tidak mendapatkan penanganan dengan cepat.

Baca Juga: Puluhan Utusan dari Rusia Diam-Diam Temui Jenderal Kudeta Myanmar

Salah satunya Soe Win yang mengantre di sebuah pabrik untuk membeli oksigen bagi neneknya yang sedang berjuang melawan gejala Covid-19.

"Saya sudah menunggu dari pukul 05.00 sampai 12.00 tapi saya masih mengantre. Oksigen lebih langka daripada uang,” kata penduduk kota terbesar Myanmar, Yangon.

Nenek Soe Win harus berada di rumah jika mereka tidak dapat menemukan tempat tidur di rumah sakit tentara atau memilih untuk tidak mempercayakan perawatan kepada pemerintah yang sangat tidak disukai. Rumah sakit militer terus beroperasi tetapi dijauhi oleh banyak orang.

Sementara dokter dan perawat yang memboikot sistem negara menjalankan klinik darurat harus menghadapi penangkapan. Kecepatan vaksinasi yang melambat telah mengancam ledakan infeksi.

“Tidak ada orang bijak dengan hati yang baik dan keinginan tulus akan kebenaran yang mau bekerja di bawah pemerintahan junta,” kata pendiri kelompok aksi sipil Clean Yangon yang membantu di pusat karantina, Zeyar Tun.

"Di bawah Suu Kyi, pemerintah dan sukarelawan bekerja sama untuk mengendalikan penyakit ini, tetapi sulit untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan di bawah kekuasaan militer," ujar Zeyar Tun.

Pemerintahan Suu Kyi membuat Myanmar telah melewati lonjakan virus corona kedua yang dimulai pada Agustus tahun lalu dengan sangat membatasi perjalanan, menutup Yangon, dan mengekang kampanye pemilihan di titik-titik virus tempat karantina wilayah diberlakukan.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini