Suara Lantang Rocky Gerung Mengagetkan, Seret Nama Anies Baswedan

Suara Lantang Rocky Gerung Mengagetkan, Seret Nama Anies Baswedan Kredit Foto: GenPI

Pengamat Politik, Rocky Gerung memberikan pandangan mengagetkan terkait aksi buzzer di media sosial (medsos) yang memuji kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) usai kritik terhadap mantan walikota Solo itu tren.

Kritik yang tren di Twitter itu terkait kegagalan pemerintah tangani pandemi covid-19. Menurut Rokcy, aksi buzzer di media sosial itu adalah contoh dari herd stupidity.

Baca Juga: Rocky Gerung: Masyarakat Indonesia Dermawan, Tapi Pemerintahnya Kikir

“Untuk apa Istana mengerahkan buzzer lagi? Covid itu tidak takut pada buzzer, tapi covid takut pada konstruksi berpikir yang masuk akal,” ujarnya dalam video di kanal YouTube Rocky Gerung Official, Minggu (11/7/2021).

Rocky mengatakan bahwa buzzer melakukan tindakan yang tidak masuk akal dan tak ada gunanya.

“Saat ini cuma ada dua pilihan untuk dilakukan, yaitu turunkan pandemi atau turunkan Presiden,” katanya.

Akademisi itu menilai bahwa publik sudah marah terhadap kebijakan pemerintah yang tak mampu mengendalikan pandemi covid-19.

“Penurunan covid-19 itu menunggu kebijakan, bukan ocehan di media massa seolah-olah Presiden bekerja,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Rocky mengusulkan agar pemerintah melakukan lockdown untuk menurunkan penyebaran covid-19, terutama di wilayah DKI Jakarta.

Pasalnya, hampir 50 persen masyarakat DKI Jakarta sudah terpapar covid-19.

“Data hasil riset dari para epidemiolog itu mengatakan minimal Jakarta di-lockdown. Namun, melakukan itu bukan hanya bisa diterapkan di Jakarta, tapi di daerah-daerah sekitarnya juga,” tuturnya.

Filsuf itu memaparkan bahwa wilayah di sekitar Jakarta juga harus dianggap sebagai wilayah pandemi covid-19 yang parah.

“Kasih saja kewenangan kepada Anies (Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, Red) untuk melakukan lockdown daerah Jakarta. Nanti, pemerintah pusat tinggal melakukan apa yang tak mampu dilakukan Anies,” paparnya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di GenPI Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan GenPI. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab GenPI.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini