Bahaya Perang, Program Nuklir China Naikkan Tensi Ketegangan dengan Amerika

Bahaya Perang, Program Nuklir China Naikkan Tensi Ketegangan dengan Amerika Kredit Foto: Xinhua

Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa pihaknya telah mengetahui penumpukan nuklir China, termasuk pembangunan silo baru. Akan tetapi, juru bicara Pentagon John Kirby pada Senin (12/7/2021) mengatakan, tidak akan mengungkapkan penilaian intelijennya.

“Kami tidak akan masuk ke penilaian intelijen kemampuan nuklir China… Kami tetap prihatin dengan modernisasi China dan pengembangan kemampuan yang dalam banyak hal tampaknya tidak memiliki tujuan lain selain mencoba untuk mencegah akses AS dan sekutu ke area-area di China. Indo-Pasifik,” kata Kirby saat briefing, dilansir EurAsian Times, Selasa (13/7/2021).

Baca Juga: Citra Satelit Ekspos Nuklir China, India Ketar-Ketir di Perbatasan Melihat Ratusan...

Gambar satelit terbaru mengungkapkan pembangunan 119 silo rudal di provinsi Gansu China. China diyakini memiliki persenjataan 250 hingga 350 senjata nuklir, menurut laporan yang diterbitkan.

“Kami tidak merahasiakan fakta bahwa kami sadar bahwa mereka terus membangun kemampuan nuklir termasuk pembangunan silo,” kata Kirby.

Departemen Luar Negeri sebelumnya mengatakan bahwa silo baru yang dilaporkan oleh media AS mungkin menunjukkan bahwa persenjataan nuklir China akan “tumbuh lebih cepat dan ke tingkat yang lebih tinggi daripada yang mungkin diantisipasi sebelumnya.”

Awal bulan ini, juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price telah menyatakan bahwa AS prihatin dengan percepatan pembangunan persenjataan nuklir China.

“Laporan-laporan ini dan perkembangan lainnya menunjukkan bahwa persenjataan nuklir RRT [China] akan tumbuh lebih cepat dan ke tingkat yang lebih tinggi daripada yang mungkin diantisipasi sebelumnya,” kata Price ketika ditanya tentang laporan bahwa Beijing sedang membangun lebih dari 100 silo rudal nuklir.

“Penumpukan ini, ini mengkhawatirkan dan menimbulkan pertanyaan tentang niat RRC,” paparnya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini