Kekacauan Luar Biasa di Afrika Selatan Dipicu Eks Presiden Jacob Zuma

Kekacauan Luar Biasa di Afrika Selatan Dipicu Eks Presiden Jacob Zuma Kredit Foto: Thenationalinterest.org

Kerusuhan yang dipicu oleh pemenjaraan mantan Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma meningkat pada Senin (12/7/2021). Puncaknya, ketika pusat perbelanjaan di Johannesburg dijarah, jalan-jalan utama ditutup dengan ban yang terbakar dan polisi dan militer berjuang untuk menahan kekerasan.

Presiden Cyril Ramaphosa, dalam pidato suram yang disiarkan ke negara itu Senin (12/7/2021) malam, bersumpah bahwa polisi dan tentara akan memulihkan ketertiban. Dia lantas mengimbau semua orang Afrika Selatan untuk bekerja sama demi perdamaian.

Associated Press pada Senin (12/7/2021) melaporkan, kerusuhan dimulai pekan lalu di provinsi KwaZulu-Natal setelah Zuma dipenjara karena menghina pengadilan. Apa yang dimulai sebagai pemblokiran jalan skala kecil di daerah asal Zuma meningkat dan menyebar ke Gauteng, provinsi terpadat di Afrika Selatan, termasuk Johannesburg, kota terbesar di negara itu.

Pasukan Pertahanan Nasional Afrika Selatan telah dikerahkan untuk membantu polisi.

Setidaknya 10 orang telah tewas dan lebih dari 490 ditangkap "dalam tindakan kekerasan publik yang jarang terlihat dalam sejarah demokrasi kita," kata Ramaphosa.

Tanpa menyebut Zuma, Ramaphosa mengatakan bahwa “kekerasan mungkin memang berakar pada pernyataan dan aktivitas individu dengan tujuan politik, dan dalam ekspresi frustrasi dan kemarahan ... Namun, apa yang kita saksikan sekarang adalah tindakan kriminalitas oportunistik, dengan sekelompok orang yang menghasut kekacauan hanya sebagai kedok penjarahan dan pencurian.”

Dia mengatakan akar penyebab kerusuhan adalah tingginya tingkat kemiskinan dan pengangguran di Afrika Selatan.

“Momen ini sangat melegakan apa yang sudah kita ketahui: bahwa tingkat pengangguran, kemiskinan, dan ketidaksetaraan dalam masyarakat kita tidak berkelanjutan,” kata Ramaphosa.

“Kita tidak dapat mengharapkan perdamaian yang langgeng dan tahan lama jika kita tidak menciptakan lapangan kerja dan membangun masyarakat yang lebih adil dan merata di mana semua orang Afrika Selatan dapat berpartisipasi secara bebas dan setara.”

Dia mendesak semua warga Afrika Selatan untuk menahan diri dari kekerasan.

"Bersama-sama, kita akan mengalahkan mereka yang berusaha mengacaukan negara kita. Kami akan berdiri sebagai satu orang, bersatu melawan kekerasan, dengan suara bulat dalam komitmen kami untuk perdamaian dan supremasi hukum," katanya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini