Dokter Paru UI Beberkan Sembuh Covid-19 Varian Delta Bukan Berarti Antibodi Auto-Terbentuk

Dokter Paru UI Beberkan Sembuh Covid-19 Varian Delta Bukan Berarti Antibodi Auto-Terbentuk Kredit Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya

Dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) dr. Gatut Priyonugroho, Sp.P. menyatakan perbedaan Covid-19 varian Delta (dari India) dengan varian lain, antara lain pada tingkat penularannya.

"Virus Covid-19 varian Alpha dari UK bisa menular dari satu orang kepada enam orang, dan varian delta dari satu orang menularkan kepada delapan orang. Angka tersebut tidak saklek (pasti), tapi menggambarkan bahwa semudah itu varian Covid-19 yang baru menular," kata dr. Gatut.

Gatut juga menjelaskan apabila seseorang yang sudah terinfeksi Covid-19 divaksinasi, maka antibodi naik, kecuali untuk varian Delta.

"Ketika dia sudah kena varian Delta, terus divaksinasi, maka keefektifannya tidak sebaik seseorang yang belum terkena jenis varian tersebut," kata Gatut.

Ia menyarankan pembersihan pada ruangan lebih utama daripada disinfeksi. "Kalau tangan kita kotor, jangan didisinfeksi saja tapi juga dibersihkan. Bersihkan dulu menggunakan sabun, karena cara ini paling aman untuk merontokkan struktur virus yang hinggap pada tangan kita," ujar Gatut.

Gatut meluruskan salah paham di masyarakat bahwa penyintas Covid-19 (mereka yang sudah sembuh dari Covid-19) akan lebih kebal terhadap virus tersebut.

"Mereka yang pernah kena Covid-19 bukan berarti dia sudah menumbuhkan antibodi, tetapi itu juga tandanya dia terbukti rentan terkena Covid-19, karena virus itu cocok dengan tubuhnya sehingga mudah masuk. Maka kita juga cukup sering menemukan kasus orang yang terinfeksi virus Covid-19 untuk yang kedua kalinya," ujar dr. Gatut Priyonugroho.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini