Pentolan Senior Bilang Taliban Ogah Buka Pertempuran di Afghanistan karena...

Pentolan Senior Bilang Taliban Ogah Buka Pertempuran di Afghanistan karena... Kredit Foto: Reuters

Pemimpin senior mengatakan bahwa Taliban tidak ingin terlibat dalam pertempuran di dalam kota-kota Afghanistan. Ucapan ini keluar ketika ribuan keluarga meninggalkan rumah mereka, karena takut hidup di bawah kekuasaan Taliban.

“Sekarang pertempuran dari pegunungan dan gurun telah mencapai pintu kota, Mujahiddin tidak ingin pertempuran di dalam kota,” kata Amir Khan Muttaqi dalam pesan yang di-tweet oleh juru bicara Taliban pada Selasa (13/7/2021).

Baca Juga: Taliban Girang saat Tahu China Mau Berinvestasi di Afghanistan

“Lebih baik … menggunakan saluran apa pun yang memungkinkan untuk berhubungan dengan komisi undangan dan bimbingan kami, mencapai kesepakatan logis untuk mencegah kota mereka rusak,” kata Muttaqi, kepala komisi yang mengawasi orang-orang yang menyerah kepada kelompok tersebut, dikutip dari Al Jazeera, Rabu (14/7/2021).

Dalam pernyataan terpisah, kelompok bersenjata itu mengatakan keputusan Turki untuk memberikan keamanan ke bandara Kabul ketika pasukan pimpinan Amerika Serikat (AS) meninggalkan negara itu “tercela”.

“Keputusan itu … keliru, pelanggaran kedaulatan dan integritas teritorial kami dan bertentangan dengan kepentingan nasional kami,” kata kelompok itu, beberapa hari setelah Turki setuju dengan Washington untuk memberikan keamanan guna melindungi bandara.

Sementara itu, kemajuan Taliban dalam 15 hari terakhir telah mengusir lebih dari 5.600 keluarga dari rumah mereka, kebanyakan dari mereka berada di wilayah utara negara itu, menurut kementerian pengungsi dan repatriasi pemerintah.

Wilayah ini merupakan benteng tradisional panglima perang sekutu AS dan didominasi oleh etnis minoritas.

Perjanjian Februari 2020 yang ditandatangani Taliban dengan AS dilaporkan mencegah para pejuang merebut ibu kota provinsi, Associated Press melaporkan pada Selasa (13/7/2021).

Namun dua kota yakni Kandahar di selatan dan Badghis di utara telah dikepung.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini