Kini Giliran Prancis yang Bakal Evakuasi Warganya dari Afghanistan

Kini Giliran Prancis yang Bakal Evakuasi Warganya dari Afghanistan Kredit Foto: Unsplash/Zo Razafindramamba

Prancis akan mengevakuasi warganya yang masih berada di Afghanistan. Hal itu merespons memburuknya situasi keamanan menyusul serangkaian serangan Taliban di sejumlah wilayah di negara tersebut.

Pemerintah Prancis akan menyiapkan penerbangan khusus dan gratis dari Kabul pada Sabtu (17/7) mendatang.

Baca Juga: Di Qatar, Utusan Taliban dan Delegasi Afghanistan Bakal Duduk Satu Meja Bahas Ini

“Kami secara resmi merekomendasikan semua warga Prancis mengambil penerbangan khusus ini. Jika Anda berencana tinggal di Afghanistan setelah 17 Juli, kami tidak akan lagi dapat memberikan keamanan untuk keberangkatan Anda,” kata Utusan Prancis untuk Afghanistan David Martinon pada Selasa (13/7), dikutip laman Anadolu Agency.

Martinon mengungkapkan, negaranya juga menawarkan suaka kepada keluarga pegawai kedutaan besar Prancis di Afghanistan. Suaka pun ditawarkan bagi pegawai atau staf the French Institute and the Archaeological Delegation dan AFRANE, organisasi nirlaba persahabatan Prancis-Afghanistan yang telah memfasilitasi proyek kerja sama. Sebelumnya Prancis merehabilitasi penerjemah untuk militer Prancis di Afghanistan di bawah program suaka khusus.

"Pihak berwenang Prancis, tanpa bayang-bayang keraguan, telah memutuskan untuk menyelamatkan rekan-rekan Afghanistan kami pada saat keamanan mereka tidak lagi dijamin," kata Martinon.

Ribuan warga Afghanistan yang membantu dan bekerja untuk misi asing serta NATO sebagai penerjemah, juru Bahasa, dan profil pekerjaan sipil lainnya menghadapi risiko ditinggalkan. Hal itu karena pasukan internasional, termasuk Amerika Serikat (AS), menutup operasinya di negara tersebut dengan batas waktu penarikan pasukan hingga 11 September.

Taliban telah meyakinkan keselamatan bagi warga Afghanistan yang bekerja untuk misi asing dan NATO. Taliban menyerukan mereka agar tak melarikan diri. Namun, ada kekhawatiran bahwa mereka bakal dicap sebagai pengkhianat.

Taliban mulai melancarkan serangan ke sejumlah wilayah di Afghanistan setelah AS menarik pasukannya dari negara tersebut. Menurut Kementerian Pengungsi dan Repatriasi Afghanistan, serangkaian serangan Taliban dalam dua pekan terakhir telah menyebabkan 5.600 warga di sana meninggalkan rumahnya. Kebanyakan dari mereka berada di wilayah utara Afghanistan. Wilayah tersebut merupakan benteng tradisional sekutu AS dan didominasi etnis minoritas.

Taliban juga dilaporkan telah mengepung daerah Kandahar di selatan dan Badghis di utara. Di ibu kota Kabul, warga telah mencemaskan potensi serangan Taliban. Kementerian Dalam Negeri Afghanistan mengatakan sistem pertahanan roket telah disiagakan di kota tersebut.

AS, Rusia, China, dan Pakistan telah memperingatkan Taliban agar tidak mencoba meraih kemenangan militer. Sebab, hal itu bakal membuat kelompok tersebut menjadi paria internasional.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini