Kisah Orang Terkaya: Wolfgang Marguerre, Miliarder Jerman Pembuat Plasma Darah

Kisah Orang Terkaya: Wolfgang Marguerre, Miliarder Jerman Pembuat Plasma Darah Kredit Foto: Octapharma/Wolfgang Marguerre

Miliarder asal Jerman, Wolfgang Marguerre adalah salah satu orang terkaya di dunia. Ia adalah ketua dan pemilik Octapharma Group, perusahaan farmasi yang memproduksi obat-obatan dari protein manusia untuk mengobati hematologi, imunoterapi, perawatan intensif, dan pengobatan darurat yang terkenal dengan pembuatan plasma darah.

Pria kelahiran tahun 1941 ini mendirikan Octapharma pada tahun 1983 bersama Robert Taub. Octapharma dimiliki oleh Marguerre dan ketiga anaknya, dua di antaranya, Frederic Marguerre dan Tobias Marguerre, duduk di dewan manajemen. Pada Juli 2021, Forbes memperkirakan kekayaan bersihnya mencapai USD10,1 miliar (Rp146 triliun).

Baca Juga: Kisah Orang Terkaya: Lu Xiangyang, Wakil Ketua Raksasa Otomotif di China

Lahir di Jerman pada tahun 1941, Marguerre dibesarkan dan dididik di Heidelberg dan belajar Ilmu Politik dan Ekonomi di Universitas Heidelberg. Marguerre memperoleh gelar MBA di INSEAD pada tahun 1972.

Setelah itu, ia menjabat sebagai direktur pelaksana di Pharmaplast selama tiga tahun di Kopenhagen, sebelum pindah ke Baxter-Travenol Europe di Brussels sebagai direktur dan manajer bisnis Hyland-Division.

Pada tahun 1979, ia menjadi wakil presiden eksekutif senior Revlon Healthcare Group di Paris hingga tahun 1983, lalu ia mendirikan Octapharma dan mengubahnya menjadi salah satu produsen produk plasma darah terbesar di dunia.

Octapharma memiliki pabrik produksi di enam negara, lebih dari 7.500 karyawan dan pendapatan tahunan sekitar USD2,6 miliar (Rp37 triliun). Di AS, yang merupakan pasar plasma darah paling menguntungkan, perusahaan mengoperasikan lebih dari 70 pusat donasi.

Octapharma adalah sponsor perusahaan terkemuka Save One Life, sebuah organisasi nirlaba internasional yang mendukung anak-anak dan orang dewasa dengan kelainan darah di India, Nepal, Rumania, dan Filipina.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini