Gerilyawan Tembak Kepala Pejabat Junta Myanmar hingga Tewas di Tempat

Gerilyawan Tembak Kepala Pejabat Junta Myanmar hingga Tewas di Tempat Kredit Foto: Getty Images

Kelompok gerilya lokal mengeklaim bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap seorang pejabat yang ditunjuk junta di Kotapraja Myitnge, Mandalay, pada Rabu pagi. Administator bernama Thet Thet Cho (58) tersebut ditembak di bagian kepala dari jarak dekat di pintu masuk Pasar Myitnge, kemudian tewas di tempat.

“Dia ditembak hari ini (Rabu) di dekat pos pemeriksaan di pintu masuk, di mana mereka memeriksa apakah orang-orang memakai masker dan lainnya,” kata warga lokal yang tidak menyaksikan kejadian tersebut seperti diberitakan media lokal Myanmar Now, Rabu.

Baca Juga: Orang-orang HAM Teriak Minta Jepang Setop Proyek Real Estate di Myanmar

Sebuah kelompok gerilya bernama Never Give Up: Fox Force (NGUFF) mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut dalam pengumuman mereka.

Menurut seorang warga lokal, Thet Thet Cho baru menjadi administrator di Kotapraja Myitnge setelah kudeta militer.

Berdasarkan keterangan warga Myitnge, Thet Thet Cho bekerja sebagai penjual paratha sebelum dia ditunjuk sebagai administrator lingkungan oleh dewan militer pada April.

Warga mengungkapkan Thet Thet Cho terpaksa tinggal di kantor administrasi karena lingkungannya tidak mau menerima dia.

Setelah pembunuhan itu, warga setempat mengungkapkan tentara sempat datang untuk menginvestigasi, tetapi pergi tanpa menangkap siapapun.

Thet Thet Cho menjadi administrator perempuan kedua yang dibunuh sejak kudeta militer pada 1 Februari. Sebelumnya, Soe Soe Lwin, seorang administrator yang ditugaskan militer di kawasan Tamwe, Yangon, ditembak dan dibunuh pada 8 Juni.

Dalam beberapa bulan belakangan, sejumlah administrator telah mundur dari jabatannya di tengah maraknya pembunuhan pejabat yang ditunjuk junta di seluruh Myanmar.

Militer Myanmar melakukan kudeta pada 1 Februari dengan menggulingkan pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi.

Militer berdalih pemilu yang mengantarkan Suu Kyi terpilih dengan suara terbanyak penuh kecurangan. Hingga 14 Juli, kelompok masyarakat sipil mencatat 911 orang tewas sejak kudeta militer.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini