Banjir Parah di Eropa Setidaknya Merenggut 60 Korban Jiwa

Banjir Parah di Eropa Setidaknya Merenggut 60 Korban Jiwa Kredit Foto: AP Photo/Michael Probst

Banjir parah di Jerman dan Belgia menyebabkan lebih dari 60 orang tewas dan puluhan lainnya hilang pada Kamis (15/7/2021). Banjir itu seketika mengubah aliran sungai dan jalan-jalan menjadi arus deras yang menghanyutkan mobil dan menyebabkan rumah-rumah runtuh.

Mereka yang tewas antara lain adalah sembilan penghuni fasilitas penyandang cacat dan dua petugas pemadam kebakaran yang terlibat dalam upaya penyelamatan di seluruh wilayah.

Baca Juga: Angela Merkel Ogah Wajibkan Vaksin Corona buat Rakyat Jerman karena...

"Saya berduka atas mereka yang kehilangan nyawa dalam bencana ini," kata Kanselir Jerman Angela Merkel saat berkunjung ke Washington, dikutip laman Associated Press, Jumat (16/7/2021).

Berbicara bersama Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden di Gedung Putih, Merkel mengatakan pikirannya tertuju pada semua orang yang kehilangan orang yang dicintai atau masih mencari mereka.

"Saya khawatir seluruh tragedi ini hanya akan terlihat dalam beberapa hari mendatang," katanya.

Pihak berwenang mengatakan sedikitnya 30 orang tewas di negara bagian Rhine-Westphalia Utara dan 28 di negara tetangga Rhineland-Palatinate di selatan. Sementara itu, media Belgia melaporkan delapan kematian di negara itu.

Badai baru-baru ini di beberapa bagian Eropa barat membuat sungai dan waduk meluap, memicu banjir bandang semalaman setelah tanah jenuh tidak dapat menyerap air lagi. Di antara desa-desa Jerman yang paling parah terkena dampak adalah Schuld, di mana beberapa rumah runtuh dan puluhan orang masih belum ditemukan.

Operasi penyelamatan terhambat oleh jalan yang diblokir dan pemadaman telepon dan internet di seluruh Eifel, wilayah gunung berapi yang berbukit-bukit dan lembah-lembah kecil. Beberapa desa menjadi puing-puing karena rumah bata dan kayu tua tidak dapat menahan aliran air yang tiba-tiba, sering membawa pohon dan puing-puing lainnya saat menyembur melalui jalan-jalan sempit.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini