Ketika 25.000 Tentara Afrika Selatan Turun ke Jalan, Nasib Rakyat Dibuat...

Ketika 25.000 Tentara Afrika Selatan Turun ke Jalan, Nasib Rakyat Dibuat... Kredit Foto: AFP/Luca Sola

Pemerintah Afrika Selatan mengerahkan 25.000 tentara pada Kamis (15/7/2021) untuk membantu memadamkan kerusuhan selama seminggu yang dipicu pemenjaraan eks Presiden Jacob Zuma. Angka itu menjadi pengerahan tentara terbesar sejak berakhirnya kekuasaan minoritas kulit putih.

Associated Press melaporkan, pemerintah Afrika Selatan 10.000 tentara berada di jalan-jalan pada Kamis (15/7/2021) pagi berpatroli bersama polisi. Pasukan Pertahanan Nasional Afrika Selatan juga telah memanggil semua pasukan cadangannya yang terdiri dari 12.000 tentara.

Baca Juga: Demo Afrika Selatan Berujung Tragis, Balita Dilempar dari Lantai 16

Dalam unjuk kekuatan, konvoi lebih dari selusin pengangkut personel lapis baja membawa tentara ke provinsi Gauteng, provinsi terpadat di Afrika Selatan, yang meliputi kota terbesar, Johannesburg, dan ibu kota, Pretoria.

Bus, truk, pesawat terbang, dan helikopter juga digunakan untuk memindahkan pengerahan besar pasukan ke tempat-tempat bermasalah di provinsi Gauteng dan KwaZulu-Natal yang telah menyaksikan kekerasan di sebagian besar daerah miskin.

Sebelumnya, kerusuhan meletus pekan lalu setelah Zuma mulai menjalani hukuman 15 bulan karena menghina pengadilan karena menolak mematuhi perintah pengadilan untuk bersaksi pada penyelidikan yang didukung negara yang menyelidiki tuduhan korupsi ketika dia menjadi presiden dari 2009 hingga 2018.

Lebih dari 2.200 orang telah ditangkap karena pencurian dan perusakan dan 117 orang tewas, Khumbudzo Ntshavheni, pejabat menteri di kepresidenan mengatakan Kamis. Banyak yang terinjak-injak sampai mati dalam injak-injak yang kacau ketika toko-toko dijarah, menurut polisi.

“Ini bukan demonstrasi. Ini adalah sabotase ekonomi dan kami sedang menyelidiki dengan maksud untuk menangkap para penghasutnya,” kata Ntshavheni pada briefing Kamis.

Satu orang telah ditangkap dan 11 lainnya berada di bawah pengawasan karena menghasut dan merencanakan kerusuhan, katanya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini