Merinding Parah! Kerugian Garuda Indonesia Bengkak 6.000% dalam Setahun!

Merinding Parah! Kerugian Garuda Indonesia Bengkak 6.000% dalam Setahun! Kredit Foto: WE

Keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) berdarah-darah adalah fakta yang tak bisa ditutupi. Sepanjang tahun 2020, maskapai penerbangan BUMN ini mencetak kerugian bersih sebesar US$2,44 miliar. Nilai tersebut membengkak 6.173% dari kerugian Garuda pada tahun 2019 lalu yang hanya US$38,94 juta.

Dalam laporan keuangan tahun 2020 yang disampaikan Jumat, 16 Juli 2021, Garuda melaporkan penurunan pendapatan usaha sebesar 67,39% dari US$4,57 miliar pada Desember 2019 menjadi US$1,49 miliar pada Desember 2020. Penerbangan berjadwal berkontribusi sebesar US$1,20 miliar pada tahun 2020, lebih kecil dari kontribusi tahun 2019 lalu yang mencapai US$3,77 miliar.  Baca Juga: Buat Bantu Anak Perusahaan, AKR Corporindo Rogoh Kocek Puluhan Miliar Rupiah

Penerbangan tidak berjadwal juga mengalami penyusutan, yakni awalnya US$249,91 juta pada akhir 2019 menjadi US$77,24 juta pada akhir 2020. Pendapatan lainnya tercatat menurun dari US$549,33 juta menjadi US$214,42 juta. Pada dasarnya, Garuda berhasil menekan beban usaha dari angka US$4,46 miliar pada Desember 2019 menjadi US$3,30 miliar pada Desember 2020. Baca Juga: Jumat, 16 Juli 2021: Rupiah Hari Ini Keok di Asia dan Dunia!

Namun pada saat yang sama, kerugian selisih kurs yang ditanggung Garuda meningkat dari US$32,60 juta menjadi US$35,25 juta. Ditambah lagi, pendapatan lain-lain yang pada tahun 2019 mencapai US$12,98 juta, kini berbalik menjadi beban senilai US$356,32 juta pada tahun 2020. Selain itu, Garuda menanggung rugi bagian atas hasil bersih entitas asosiasi yang lebih besar, yakni dari US$21,48 ribu menjadi US$3,89 juta. 

Performa keuangan Garuda semakin tertekan ketika beban keuangan mengalami lonjakan signifikan dari US$139,99 juta pada akhir 2019 menjadi US$553,67 miliar pada akhir 2020. Total liabilitas Garuda pada akhir 2019 lalu sebesar US$3,87 miliar, sedangkan pada akhir 2020 membengkak jadi US$12,73 miliar.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini