Laporan Keuangan Dapat Status Disclaimer dari Auditor, Bos Garuda Bongkar Biang Keroknya!

Laporan Keuangan Dapat Status Disclaimer dari Auditor, Bos Garuda Bongkar Biang Keroknya! Kredit Foto: Antara/Muhammad Iqbal

Laporan keuangan tahun 2020 milik PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mendapat status disclaimer atau 'tidak menyatakan pendapat' dari Kantor Akuntan Publik Tanudiredja, Wibisana, Rintis, & Rekan selaku auditor independen. Mengapa demikian?

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia, Prasetio, menjelaskan bahwa ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi pemberian status tersebut. Kondisi keuangan Garuda, jelas Prasetio, saay ini mengalami defisiensi ekuitas sebesar US$1,9 miliar yang disebabkan oleh pandemi Covid-19. Hal itu berimbas kepada pembatasan perjalanan dan penurunan perjalanan udara yang signifikan hingga akhirnya operasional dan likuiditas Garuda ikut terdampak. Baca Juga: Merinding Parah! Kerugian Garuda Indonesia Bengkak 6.000% dalam Setahun!

"Dampak buruk terhadap operasi dan likuiditas Garuda secara langsung berpengaruh pada kemampuan Garida dalam memenuhi kewajibannya," tegas Prasetio, Jumat, 16 Juli 2021.  Baca Juga: Bidik Dana Segar Rp15 Triliun, Perusahaan Milik Sandiaga Uno Rilis Obligasi Jumbo

Ia mengaku, manajemen telah menyusun rendana guna meminimalkan tekanan likuiditas tersebut sekaligus memperbaiki kinerja keuangan perusahaan sehingga dapat mempertahankan kelangsungan usahanya. Namun, rencana tersebut bergantung pada pemenuhan hal-hal tertentu yang menjadi kewajiban maskapai penerbangan BUMN ini.

"Kemampuan kami untuk merealisasikan hal-hal tertentu tersebut merupakan asumsi utama yang mendukung kesimpulan kami atas ketepatan penggunaan asumsi kelangsungan usaha dalam menyusun laporan keuangan konsolidasian Garuda," sambungnya.

Sebagai akibatnya, lanjut Prasetio, Auditor tidak dapat memperoleh bukti-bukti audit yang cukup dan tepat untuk mendukung asumsi bahwa rencana manajemen Garuda dapat dicapai dalam jangka waktu yang diperlukan Auditor dalam menyelesaikan auditnya.

"Karena signifikansi dari realisasi hal-hal tertentu tersebut sangat memengaruhi keterlaksanaan dan efektivitas rencana manajemen, maka Auditor kami memberikan opini Tidak Menyampaikan Pendapat," tutupnya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini