PLN, Perum Perhutani, dan PTPN Jalin Kerja Sama Cofiring Biomassa

PLN, Perum Perhutani, dan PTPN Jalin Kerja Sama Cofiring Biomassa Kredit Foto: PLN

Tiga perusahaan BUMN yang terdiri dari PT PLN, Perhutani, dan PT Perkebunan Nusantara III menjalin kerja sama cofiring biomassa. Kerja sama ini dilakukan dengan penandatanganan Head of Agreement (HoA) secara daring yang dilakukan oleh Zulkifli Zaini, Dirut PT PLN; M. Abdul Ghani, Dirut PT Perkebunan Nusantara III; Wahyu Kuncoro, Dirut Perhutani.

"PLN sepakat untuk menyediakan biomassa. Tidak hanya itu, juga mengembangkan industri biomassa untuk cofiring PLTU batu bara dengan keekonomian yang wajar," ujar Zulkifli Zaini, Direktur Utama PT PLN, Jumat (16/7/2021).

Baca Juga: RUPS PLN Putuskan Pergantian Komisaris, Berikut Daftarnya

Zaini mengatakan, program cofiring PLTU batu bara ini dilakukan sebagai bentuk komitmen PLN untuk mendukung pemerintahan dalam meningkatkan energi baru terbarukan sebesar 23 persen sampai tahun 2025 yang sejalan dengan transformasi PLN saat ini. PLN memimpin transisi energi baru terbarukan secara besar dan efisien.

Tindak lanjut dari kerja sama ini, rencanya PLN akan melakukan dua tahap. Pertama, Perhutani dan PTPN III sebagai pemasok akan dimulai pada triwulan keempat tahun 2021. Kedua, kerja sama pengembangan industri biomassa akan diinisiasi pada triwulan pertama tahun 2021.

"Kedua tahap ini untuk mendukung cofiring di 52 PLTU tersebar di seluruh Indonesia dengan total kebutuhan biomassa di tahun 2025. Tahun selanjutnya sebesar 9 juta ton per tahun melalui kerja sama ini sebagian besar kebutuhan biomassa tersebut dapat dipenuhi Perhutani dan PTPN sesuai dengan area kerja dan kewenangannya yang posisinya terjangkau dari PLTU PLN yang masuk ke dalam program cofiring," ujarnya.

Direktur Utama PTPN III, M. Abdul Ghani, menyatakan bahwa bentuk dukungan kepada PLN dengan setiap tahun 2,5-3 juta ton tandan kosong yang dihasilkan untuk proses produksi. Ia menyebut, di wilayah kerjnya memiliki 24 ribu hektare yang bernilai bahan biomassa sebesar 2 juta ton. Selain itu, 75 pabrik yang berada di bawah PTPN III bisa membangun pembangkit listrik berbasis limbah cair dengan daya berjumlah 75-100 Megawatt yang selama ini dilakukan berkat kerja sama dengan anak perusahaan Pertamina.

"Kami sangat mendukung betul program PLN dan PTPN seluruh pabriknya menggunakan bahan bakar terbarukan. Pabrik kelapa sawit dan pabrik karet kami menggunakan biomassa. Mudah-mudahan tanda tangan ini bisa dilanjutkan ke depan," katanya.

Direktur Utama Perhutani, Wahyu Kuncoro, mengatakan saat ini yang memiliki wilayah kerja seluas 2,4 juta hektare yang terletak di Pulau Jawa dan Madura. Sampai tahun 2020, hutan tanaman energi yang terealisasi ditanam seluas 27 ribu hektare dari rencana seluas 70 hektare yang menghasilkan setara 1,8 juta ton. Angka tersebut setara dengan 60 persen kebutuhan cofiring PLTU PLN di Jawa sebanyak 3 juta ton biomassa per tahun.

"Atau setara dengan 20 juta ton dari total kebutuhan nasional," katanya.

Wahyu menambahkan program pembangunan hutan energi sudah menjadi bagian rencana panjang yang sudah disetujui Menteri BUMN. Ia mengaku juga mendapatkan tugas dari Wakil Menteri BUMN untuk proyek 2021 untuk mendukung program pemerintah mencapai target energi nasional.

Tahap awal tahun 2022, Perhutani akan mengalokasikan pasokan biomassa untuk cofiring pada PLTU Pelabuhan Ratu sebesar 20 ribu ton per tahun dan PLTU Rembang sebesar 85 ribu ton per tahun. Direncanakan, pasokan tersebut akan mengalami peningkatan setiap tahunnya.

"Ke depan, Perhutani akan menyiapkan industri biomassa berbasiskan tanaman hutan untuk menghasilkan produk yang dibutuhkan PLN. Ini untuk mendukung percepatan target bauran energi nasional sebesar 23 persen di tahun 2025 yang dicanangkan pemerintah," jelasnya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini