ShopeePay Talk Bocorkan 3 Rahasia Sukses Berbisnis Hanya dengan Modal Ratusan Ribu!

ShopeePay Talk Bocorkan 3 Rahasia Sukses Berbisnis Hanya dengan Modal Ratusan Ribu! Kredit Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya

ShopeePay Talk, platform diskusi virtual bulanan dari Shopee, mengadakan diskusi bersama beberapa pelaku usaha untuk memberikan wawasan cara efektif mengelola bisnis terutama di kala pandemi. Kali ini, tema diskusi ShopeePay Talk membahas tiga cara ampuh berbinis dengan modal ratusan ribu hingga bisa mendapatkan omzet bisnis ratusan juta.

"Kami memahami bahwa modal kerap kali menjadi salah satu aspek pertimbangan utama seseorang dalam mulai berbisnis. Padahal, strategi bisnis dan pemilihan target pasar yang tepat dapat menjadi sebuah landasan dasar membangun bisnis yang menghasilkan walaupun dengan modal yang relatif kecil," ujar Head of Strategic Merchant Acquisition ShopeePay, Eka Nilam Dari, secara virtual, Jumat (16/7/2021).

Baca Juga: Sea Group Induk Usaha Shopee Serahkan 1.000 Tabung Oksigen ke Kemenkes

Untuk membangun bisnis hanya dengan modal ratusan ribu, para pelaku usaha bisa memulai bisnisnya dengan menggunakan tiga strategi utama sebagai berikut:

1. Tentukan target pasar dan jadi solusi bagi mereka

Menentukan target pasar merupakan langkah utama dalam memulai berbisnis. Penting bagi para pelaku usaha memahami permasalahan yang dihadapi target pasarnya sehingga pelaku usaha bisa menciptakan strategi untuk menghadirkan solusi bagi sasaran bisnis mereka. Dengan demikian, para pelaku usaha dapat merintis usaha mereka dengan menciptakan produk maupun jasa yang bisa menjawab permasalahn target pasar mereka.

Salah satu contoh keberhasilan strategi ini diungkapkan oleh pemilik Ayam Goreng Nelongso, Nanang Suherman. Ia memulai bisnisnya dengan menghadirkan menu makanan senilai Rp5 ribu karena ingin menyasar mahasiswa sebagai target pasarnya.

"Itu sebabnya kami menghadirkan beragam menu terjangkau yang ramah bagi kantong mahasiswa. Kami juga berupaya menjangkau target pasar kami seperti mendirikan gerai dekat area kampus dan tempat kos. Saat ini, Ayam Goreng Nelongso memiliki 71 gerai yang tersebar di Indonesia," ungkap Nanang.

2. Manfaatkan kekuatan platform digital

Kondisi pandemi Covid-19 telah mendorong percepatan transformasi digital dan menuntut masyarakat untuk beradaptasi dengan perkembangannya. Hal ini bisa dimanfaatkan para pelaku usaha untuk mengembangkan bisnisnya di ranah digital.

Brand and Marketing Director COTTONINK, Ria Sarwono, mengungkapkan bahwa platform digital memiliki peranan yang cukup signifikan terhadap perjalanan bisnisnya. Platform digital telah mempertemukan bisnisnya dengan konsumen dari Sabang sampai Merauke, bahkan hingga konsumen internasional.

"Perjalanan saya dan Carline Darjanto, Creative Director COTTONINK, membangun brand ini dimulai dari satu langkah yang cukup sederhana. Modal yang kami keluarkan pun tidak seberapa, tetapi kami mencoba untuk memasarkan barang yang sesuai dengan tren dan diminati pasar saat itu. Bisa dibilang, platform digital berperan cukup signifikan dalam pertumbuhan COTTONINK," tuturnya.

3. Ukur risiko dengan cermat dan maksimalkan "modal" lainnya

Uang bukan satu-satunya modal yang dibutuhkan dalam membangun bisnis. Pelaku usaha juga perlu memiliki dukungan modal lainnya seperti keterampilan kepemimpinan, membangun dan menjaga relasi, kreativitas, menggunakan platform digital, hingga bernegosiasi.

Entrepeneur & Founder Negeri Pembelajar Edu-tech, Feliexandro Ruby, menyatakan bahwa kesuksesan sebuah bisnis tak terlepas dari soft skills yang dimiliki pendirinya. Namun, dia meyakinkan setiap keterampilan pendukung itu bisa dipelajari dan dikuasai dengan terus berupaya mengeksplorasi diri.

Ia mencontohkan, salah satu upaya yang dapat dilakukan para pelaku usaha untuk memasarkan bisnisnya adalah berkolaborasi dengan content creator untuk meningkatkan brand awareness.

"Pelaku usaha dapat memaksimalkan networking dengan mengajak konten kreator berkolaborasi dalam bisnis yang sedang dirintis. Kolaborasi tersebut dapat dibangun dengan memberikan persentase saham dari keuntungan bisnis," terangnya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini