Kalau Sudah Tahu Uang Terbatas, Pemerintah Harusnya Langsung Beri Vaksin Bagus ke Rakyat

Kalau Sudah Tahu Uang Terbatas, Pemerintah Harusnya Langsung Beri Vaksin Bagus ke Rakyat Kredit Foto: Sufri Yuliardi

Politikus Partai Demokrat, Jansen Sitindaon, beberkan pendapatnya terkait covid-19. Menurutnya, sejak awal covid-19 terus bermutasi dan kemampuan menularnya makin cepat.

Lebih lanjut, dirinya menuturkan bila ilmu pengetahuan masih perlu waktu meneliti agar covid-19 bisa dikendalikan. Oleh sebab itu, negara mesti melakukan gerakan untuk memprioritaskan rakyatnya.

“Jadi, kalaupun memang tertular, gejalanya ringan tidak mematikan. Oleh karena itu seharusnya memberi rakyat vaksin bagus,” ujarnya, Sabtu (17/7).

Baca Juga: Pamor Demokrat Makin Lama Makin Redup, Bekas Anjing Penjaga SBY Senang Banget: Kasihan Deh!

Jansen berpendapat bahwa vaksin yang bagus dan berefikasi tinggi akan menurunkan tingkat penularan covid-19. “Jadi tidak perlu ke RS sehingga faskes tidak lumpuh. Angka kematianpun rendah. Yang tertular cukup istirahat dirumah hingga sembuh,” tuturnya.

Dirinya juga mengatakan bahwa pendekatan ini dipilih berbagai negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan banyak negara maju lainnya.

“Warganya diberikan vaksin bagus. Walau penularan disana masih tinggi, tapi hospitalisasinya rendah. Angka yang matipun rendah,” katanya.

Baca Juga: Haramkan Vaksin Berbayar, PAN: Vaksin Harus Gratis!

Menurut Jansen, seharusnya jalan tersebut yang dipilih Indonesia. Terlebih lagi dengan faskes tanah air yang buruk. “Uang negara fokuskan beli vaksin bagus. Agar jumlah bergejala dan meninggal tidak banyak. Dengan begitu, rumah sakit pun tidak kolaps,” katanya.

“Vaksin dengan efikasi tinggi saja kesaktiannya menurun saat melawan variant baru ini, apalagi kalau vaksinnya jelek,” ujarnya.

Dengan vaksin yang bagus, menurut Jansen, tidak diperlukan lagi booster seperti vaksinasi ke-3. “Sedangkan ada ratusan juta rakyat kita, vaksin pertama saja belum dapat! Kerja jadi 2 kali. Ibarat pemilu, ini namanya pilkada ulang. Padahal uang terbatas rakyat kita banyak,” tandasnya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di GenPI Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan GenPI. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab GenPI.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini