Bukan Main, Bashar Al-Assad Jadi Presiden Suriah untuk Jabatan Keempat

Bukan Main, Bashar Al-Assad Jadi Presiden Suriah untuk Jabatan Keempat Kredit Foto: Antara/SANA/Handout via REUTERS

Presiden Suriah Bashar al-Assad mengambil sumpah jabatan untuk masa jabatan yang ke empat, Sabtu (17/7/2021) waktu setempat. Assad secara resmi memenangkan 95 persen suara dalam pemilihan umum presiden di negara yang dilanda perang.

Penyelenggara pemilu mengatakan, Assad (55 tahun) disumpah berdasarkan konstitusi Suriah dan Alquran di hadapan lebih dari 600 tamu, termasuk menteri, pengusaha, akademisi dan jurnalis.

Baca Juga: Gak Punya Hati, Assad Naikkan Gaji PNS dan Militer 50% saat Rakyat Suriah Putus Asa

"Pemilu telah membuktikan kekuatan legitimasi rakyat yang diberikan kepada negara," ujar Assad dalam pidato pelantikannya dikutip laman The Guardian, Minggu (18/7/2021).

"Mereka telah mendiskreditkan deklarasi pejabat barat tentang legitimasi negara," ujarnya menambahkan.

Menjelang pemilihan 26 Mei lalu, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman dan Italia mengatakan, bahwa pemilu Suriah tidak bebas atau adil. Sementara oposisi Suriah yang terfragmentasi menyebut pemilu tersebut "lelucon".

Setelah upacara pengambilan sumpah, Assad bertemu dengan menteri luar negeri China, Wang Yi yang melakukan kunjungan pertama oleh seorang pejabat tinggi China ke Suriah sejak awal 2012. Kedua pria tersebut membahas Suriah yang mungkin mengambil bagian dalam inisiatif infrastruktur dan perdagangan Belt and Road China.

Assad pertama kali dipilih melalui referendum pada 2000 setelah kematian ayahnya, Hafez al-Assad, yang telah memerintah Suriah selama 30 tahun. Pemilu itu merupakan pemilihan presiden kedua sejak dimulainya perang saudara selama satu dekade yang telah menewaskan hampir setengah juta orang.

Sesaat sebelum upacara pelantikan Assad, Observatorium Suriah untuk HAM mengatakan, bahwa roket yang ditembakkan oleh pasukan pro-pemerintah menewaskan enam orang termasuk tiga anak-anak dan seorang pekerja penyelamat di benteng pemberontak besar terakhir di Idlib.

Perang Suriah telah menggusur jutaan orang sejak dimulai pada 2011 dengan penindasan protes anti-pemerintah. Assad meminta mereka yang bertaruh pada runtuhnya negara untuk kembali ke pelukan tanah air.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini