Menteri Keuangan Sebut Realisasi Belanja Negara Semester 1 2021 Tumbuh 9,4 Persen

Menteri Keuangan Sebut Realisasi Belanja Negara Semester 1 2021 Tumbuh 9,4 Persen Kredit Foto: Antara/Rivan Awal Lingga

Menteri Keuangan, Sri Mulyani melaporkan terjadi tren positif terkait pertumbuhan ekonomi sebesar 0,74 persen pada triwulan I 2021. Namun, tren positif tersebut di pertengahan tahun 2021 mengalami tantangan baru yakni pandemi Covid-19 gelombang kedua yang belakangan kasus harian menyentuh angka 50 ribuan kasus positif Covid-19.

“Belanja negara terus terakselerasi menunjukan kerja keras APBN untuk mendukung tujuan ini, hingga akhir semester 1 2021 realisasi belanja negara tumbuh 9,4 persen lebih tinggi dari 2020 yang hanya tumbuh 3,4 persen,” ujarnya dalam webinar Pengelolaan Dana Haji 2021, Senin (19/7/2021).

Baca Juga: Ekonomi Indonesia di Tengah Tekanan Pandemi, KBI Catatkan Pertumbuhan Laba 40,6%

Sri Mulyani mengatakan pemulihan ekonomi akan semakin diperkuat dengan pengendalian pandemi yang komprehensif. Caranya dengan pelaksanaan vaksinasi yang masif dan realisasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang dilakukan secara turukur dan terarah.

Hingga kini realisasi program PEN nasional yang sudah terserap sebesar 37,9 persen dari pagu yang dianggarkan sebesar Rp 699,4 triliun yang didistribusikan ke beragam sektor penanganan pandemi Covid-19.

Di antaranya sektor kesehatan untuk perawatan sebanyak 252 ribu pasien, sektor perlindungan social melalui kartu sembako untuk 15,93 juta keluarga, kuota internet untuk 32,1 juta penerima, sektor UMKM dan koperasi untuk pelaku usaha mikro sebanyak 9,8 juta  usaha, sektor insentif usaha kepada 129 ribu usaha, dan sektor program prioritas seperti proyek padat karya untuk 795 ribu tenaga kerja.

“Pemerintah senantiasa berusaha mengantisipasi dinamika pandemi di tanah air dengan instrumen fiskal yaitu APBN. Strategi realokasi dan refokusin dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan masyarkat dan menjaga ketahanan fiskal serta menyeimbangkannya dengan peningkatan aktivitas ekonomi,” ujarnya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini