Seruan Pengamat: Pak Jokowi, Tolong Singkirkan Pengkhianat di Istana!

Seruan Pengamat: Pak Jokowi, Tolong Singkirkan Pengkhianat di Istana! Kredit Foto: Instagram/Joko Widodo

Direktur Eksekutif Oversight of Indonesia's Democratic Policy Satyo Purwanto blak-blakan meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menyingkirkan pengkhianat di lingkaran Istana yang makin semrawut.

Satyo menilai, kondisi di dalam kabinet menjadi bukti rapuhnya visi dan treatment dari menteri-menteri Jokowi dalam menghadapi gempuran varian delta.

Baca Juga: 'Rakyat Butuh Sekali', Jokowi ke Kepala Daerah se-Indonesia: Percepat!

"Komunikasi juga crowded di antara mereka. Kegaduhan sering terjadi justru sumbernya dari dalam Istana sendiri," ujar Satyo Purwanto di Jakarta, Senin (19/7).

Satyo Purwanto juga menyentil ada menteri yang merasa memiliki bakat dalam segala urusan sehingga dia selalu tampil. Bahkan, urusan presiden pun kadang diambil alih. "Maka tidak heran ada menteri-menteri pelesiran dan cengar-cengir di luar negeri," jelasnya.

Atas alasan tersebut, dia berharap Presiden Jokowi segera menyingkirkan para pengkhianat yang ada di lingkaran Istana. "Brutus-brutus di lingkaran Istana mesti segera dieliminasi. Mereka inilah yang membuat penanganan pandemi tidak pernah kelar," tegasnya.

Hal senada juga diungkapkan Pengamat Politik Universitas Nasional (Unas) Saiful Anam. Menurutnya, Jokowi sudah mengetahui menteri-menteri yang tidak becus kerja. "Saya kira hal tersebut tidak terlalu sulit bagi Jokowi untuk menunjuk siapa saja menteri yang menjadi beban bagi kinerja kabinetnya," kata Saiful Anam dalam keterangan resmi, Minggu (18/7).

Saiful Anam membeber nama menteri yang layak dicopot, yakni Luhut Binsar Pandjaitan, Muhadjir Efendi, Mahfud MD, Sri MUlyani, Erick Thohir, Bahlil Lahdalia, dan Johnny Gerard Plate.

Mahfud MD menonton sinetron yang seharusnya tidak usah dipublikasikan di saat rakyat tengah berjuang. Muhadjir menyatakan darurat militer saat rakyat melawan corona. Sementara, Luhut seperti tidak bersahabat dengan rakyat dalam memimpin PPKM Darurat.

Sri Mulyani sebagai bendahara negara tampak mengambil solusi instan dengan menambah utang luar negeri. Erick Thohir menggagas jualan vaksin di tengah rakyat kesulitan melawan virus.

"Bahlil pelesiran di saat negara menerapkan PPKM Darurat. Dan, Johnny G Plate yang tidak dapat menyampaikan informasi dengan baik kepada masyarakat terkait program pemerintah," pungkasnya.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di GenPI Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan GenPI. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab GenPI.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini