Presiden Afghanistan Panik saat Roket Taliban Hantam Wilayah Istana Presiden

Presiden Afghanistan Panik saat Roket Taliban Hantam Wilayah Istana Presiden Kredit Foto: Reuters

Sedikitnya tiga roket menghantam dekat istana kepresidenan Afghanistan pada Selasa (20/7/2021). Tembakan terjadi tak lama sebelum Presiden Afghanistan Ashraf Ghani memberikan pidato untuk menandai hari raya besar umat Islam Idul Adha.

Tidak ada korban luka dan roket mendarat di luar halaman istana yang dijaga ketat, kata Mirwais Stanikzai, juru bicara menteri dalam negeri, sebagaimana dilaporkan Associated Press, Rabu (21/7/2021).

Baca Juga: Nyelekit di Telinga Amerika, China: Perang 20 Tahun di Afghanistan Percuma

Kelompok Negara Islam mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang dilaporkan saluran berita Amaq. Polisi dengan cepat menyebar ke seluruh area. Satu mobil yang diparkir di jalan terdekat hancur total. Polisi mengatakan itu digunakan sebagai landasan peluncuran roket.

Istana presiden berada di tengah-tengah yang disebut Zona Hijau yang dibentengi dengan dinding semen raksasa dan kawat berduri, dan jalan-jalan di dekat istana telah lama ditutup.

“Idul Fitri ini dinamai pasukan Afghanistan untuk menghormati pengorbanan dan keberanian mereka, terutama dalam tiga bulan terakhir,” kata Ghani dalam pidatonya kepada bangsa setelah sholat subuh untuk Idul Adha, atau “Hari Raya Kurban.”

“Taliban tidak memiliki niat dan kemauan untuk perdamaian. Kami telah membuktikan bahwa kami memiliki niat, kemauan dan pengorbanan untuk perdamaian” kata Ghani.

Namun, pasukan Afghanistan mengeluh karena dibiarkan tanpa bala bantuan dan pasokan, seringkali kehabisan makanan saat Taliban maju. Dalam banyak kasus, pasukan Afghanistan menyerah daripada berperang.

Pengawas Washington yang memantau pengeluaran Amerika Serikat (AS) di Afghanistan melaporkan bahwa pasukan sangat terdemoralisasi dan korupsi merajalela. Setelah penarikan mereka, AS dan NATO berkomitmen untuk menghabiskan $4 miliar per tahun untuk pasukan Afghanistan hingga 2024, sebagian besar uang itu berasal dari Washington.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini