Taliban Membatu, Presiden Afghanistan Bicara Kemungkinan Strategi Baru Mengerikan

Taliban Membatu, Presiden Afghanistan Bicara Kemungkinan Strategi Baru Mengerikan Kredit Foto: Reuters/Mohammad Ismail

Presiden Afganistan Mohammed Ashraf Ghani mengatakan pada Selasa (20/7/2021) bahwa strategi untuk membawa keamanan ke negara yang dilanda perang itu diajukan karena Taliban tampaknya tidak mau berdamai.

Diapit oleh sejumlah politisi dan pejabat tinggi pemerintah, Anadolu Agency, Rabu (21/7/2021) melaporkan, Ghani membuat pernyataan saat menyampaikan pidato Idul Adha tradisional setelah salat di istana kepresidenan di ibu kota Kabul.

Baca Juga: Presiden Afghanistan Panik saat Roket Taliban Hantam Wilayah Istana Presiden

Menyerukan dukungan nasional yang komprehensif untuk sistem pemerintahan demokrasi saat ini, Ghani mengatakan semua warga Afghanistan harus bersatu di belakang pasukan keamanan setidaknya selama enam bulan untuk membuat Taliban mewujudkan apa yang mereka inginkan.

"Taliban tidak menepati janji mereka, mereka tidak muncul untuk pembicaraan yang berarti, tetapi berbicara melalui 'pedang' dan bahasa kekerasan," kata Ghani sambil mengungkapkan penyesalan atas pembebasan 5.000 gerilyawan yang dibebaskan sesuai dengan kesepakatan AS-Taliban pada Februari 2020.

Tidak ada tanggapan langsung dari Taliban atas pernyataan presiden Afghanistan itu.

Sebelumnya, Istana kepresidenan dilaporkan diserang roket pada Selasa (20/7/2021) ketika para pejabat sedang salat Idul Adha berjamaah. Setidaknya tiga roket jatuh di dekat istana, Tolo News melaporkan.

Putaran terakhir pembicaraan intra-Afgan yang diremajakan gagal pekan lalu untuk memberikan terobosan dengan pemerintah dan Taliban berjanji pada Minggu untuk melanjutkan dan mempercepat pembicaraan tingkat tinggi di Doha, Qatar.

Sebuah pernyataan bersama yang dikeluarkan setelah dua hari pembicaraan mengatakan kedua pihak juga berjanji untuk melindungi kehidupan sipil, infrastruktur, dan pekerjaan pengiriman layanan di negara yang dilanda perang itu.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini