Rogoh Kocek Rp12 Triliun, Philip Morris International Akuisisi Fertin Pharma

Rogoh Kocek Rp12 Triliun, Philip Morris International Akuisisi Fertin Pharma Kredit Foto: Reuters

Philip Morris International Inc. atau PMI (NYSE: PM), perusahaan induk PT HM Sampoerna Tbk. (IDX: HMSP), mengumumkan telah meraih kesepakatan untuk mengakuisisi Fertin Pharma A/S dengan nilai DKK 5,1 miliar (sekitar US$820 juta atau Rp12 triliun). Fertin Pharma adalah pengembang dan produsen produk farmasi dan kesehatan terkemuka dengan keahlian dalam sistem penghantaran obat oral dan intraoral.

Jacek Olczak, Chief Executive Officer PMI, menyebutkan, "Akuisisi Fertin Pharma akan menjadi langkah besar menuju tercapainya masa depan bebas asap. Kapabilitas Fertin akan mendukung peningkatan portofolio produk bebas asap kami, khususnya di kategori modern oral, dan mempercepat transisi kami ke luar produk nikotin."

Baca Juga: Akuisisi Besar-Besaran, Bos Zoom Umumkan Beli Perusahaan Cloud Seharga Rp213 Triliun!

Menurut Jacek, PMI dan Fertin memiliki komitmen yang sama pada pendekatan ilmiah dan fokus pada konsumen dalam meningkatkan kualitas hidup. Fertin Pharma akan membawa kapabilitas dan keahlian penghantaran zat aktif secara oral seperti melalui kantong (pouch), permen karet (gum), tablet yang dapat dicairkan, dan lainnya. Fertin Pharma berpengalaman menerapkan sistem tersebut untuk penghantaran nikotin dan merupakan produsen terdepan dalam bidang terapi pengganti nikotin (nicotine replacement therapy).

Fertin Pharma adalah perusahaan manufaktur dan pengembangan berbasis kontrak (CDMO) swasta berbasis di Denmark, India, dan Kanada yang sebelumnya dimiliki oleh perusahaan investasi global EQT dan Bagger-Sørensen & Co. Pada tahun 2020, Fertin Pharma mencetak pendapatan bersih sebesar DKK 1,1 miliar (sekitar US$160 juta atau Rp2,3 triliun). Nilai transaksi mencerminkan sekitar 15 kali dari EBITDA Fertin Pharma pada 2020.

Peter Halling, Chief Executive Officer Fertin Pharma, menyampaikan bahwa Fertin Pharma telah melalui perjalanan yang luar biasa bersama keluarga EQT dan Bagger-Sørensen & Co. Dengan kepemilikan baru, terang Peter, Fertin Pharma akan berada di posisi yang baik untuk terus menjalankan visi dan misinya, termasuk meneruskan peran sebagai perusahaan pengembang dan manufaktur berbasis kontrak.

"PMI kini melalui transformasi yang sungguh menginspirasi dengan ambisi menciptakan masa depan bebas asap dan membangun portofolio produk di luar nikotin," kata Peter Halling dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (21/7/201).

PMI akan mendanai transaksi secara tunai dengan target menutup transaksi pada kuartal keempat 2021, sesuai dengan persetujuan dari otoritas setempat. PMI memperkirakan dampak akuisisi pada laba per saham dilusian (diluted EPS) yang disesuaikan untuk tahun 2021 tidak material.

Melalui akuisisi Fertin Pharma, PMI akan mendapatkan keahlian substansial dan tenaga ahli (termasuk 80 ilmuwan) untuk pengembangan, formulasi, dan riset produk bebas asap. Hal ini dapat mengakselerasi pertumbuhan di kategori modern oral yang bertumbuh pesat, serta menawarkan pengalaman yang superior bagi konsumen.

Keahlian penghantaran oral Fertin Pharma akan melengkapi keahlian PMI dalam inhalasi yang kemudian dapat diterapkan untuk digunakan dengan tanaman obat (botanicals) yang terbukti secara ilmiah untuk perawatan diri dan solusi meningkatkan kualitas hidup termasuk pada aspek tidur, energi, dan fokus.

Menurut Jacek, akuisisi Fertin Pharma akan mempercepat tercapainya masa depan bebas asap, memperluas jangkauan dan akses alternatif bebas asap bagi perokok dewasa di seluruh dunia, mempercepat akhir dari produk rokok, serta membangun usaha di luar nikotin yang kuat.

"Saya sangat gembira atas tercapainya kesepakatan ini yang akan memperkaya kemampuan kami serta mendukung tujuan kami pada 2025 untuk meraih lebih dari 50% pendapatan kami dari produk bebas asap dan setidaknya US$1 miliar dari produk di luar nikotin," Jacek menambahkan.

Presiden Direktur Sampoerna, Mindaugas Trumpaitis, turut menyampaikan optimismenya dalam tercapainya masa depan bebas asap. "Dengan akuisisi Fertin Pharma, PMI dapat memberikan lebih banyak alternatif yang terbukti secara ilmiah lebih rendah risiko bagi perokok dewasa. Besar harapan kami di Sampoerna untuk dapat memperkenalkan produk bebas asap ke pasar di Indonesia," tutup Mindaugas.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini