Dengan Kekhawatiran Ini, Biden Terpaksa Lancarkan Serangan Udara ke Somalia

Dengan Kekhawatiran Ini, Biden Terpaksa Lancarkan Serangan Udara ke Somalia Kredit Foto: AP Photo

Presiden Joe Biden terpaksa memerintahkan serangan udara pertamanya terhadap target Jihadi di Somalia di tengah meningkatnya serangan teror yang mengkhawatirkan di seluruh Afrika. Jet tempur Amerika Serikat (AS) membom benteng al-Shabaab di barat negara itu pada Selasa (20/7/2021) dalam upaya untuk menghentikan kelompok Islam yang melancarkan kampanye teror di seluruh wilayah.

Serangan udara tersebut dilakukan oleh unit Africa Command (AFRICOM) AS dan pasukan Somalia di pos-pos Jihadi di Galkayo, Pentagon mengkonfirmasi. Badan mata-mata mengkonfirmasi tidak ada korban sipil akibat serangan udara tersebut.

Baca Juga: Joe Biden Benar-benar Ingin Temui Raja Yordania karena Alasan INi

The Sun pada Rabu (21/7/2021) melaporkan, Washington sangat ingin menghentikan kelompok-kelompok teror seperti al-Shabaab dalam merebut lebih banyak wilayah, yang karena keterpencilannya, telah menjadi rumah bagi kelompok-kelompok Islam radikal selama beberapa dekade.

Al-Shabaab, yang berarti "Pemuda" dalam bahasa Arab, telah mencoba untuk memaksakan sebuah negara Islam di Somalia sejak didirikan pada tahun 2006. Kelompok ini juga terlibat dalam serangan di negara tetangga Kenya dan Yaman.

Afrika saat ini berada dalam cengkeraman pemberontakan Islam dengan organisasi radikal seperti Boko Haram di Nigeria dan Al Qaeda dan ISIS yang mengklaim wilayah di benua itu.

Pertempuran siap

Ini adalah serangan AS pertama terhadap sasaran Somalia sejak 19 Januari --sehari sebelum Biden dilantik sebagai Presiden-- ketika AFRICOM mengumumkan telah membunuh tiga gerilyawan Shabaab dalam dua serangan udara di Jamaame dan Deb Scinnele.

Serangan udara menandai babak baru dalam strategi militer pemerintahan Biden, yang sebelumnya membatasi penggunaan drone di luar teater perang AS. Militer AS juga menyerang sasaran al-Shabaab pada bulan Desember, berhasil membunuh delapan tersangka teroris dan melukai dua lainnya di selatan negara itu.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini