Ketika Petani Sawit Bicara: Kebun Sawit Menyimpan Air, Bukan Sebaliknya!

Ketika Petani Sawit Bicara: Kebun Sawit Menyimpan Air, Bukan Sebaliknya! Kredit Foto: Antara/Wahdi Septiawan

Kompetitor dan oknum anti-sawit, baik di dalam maupun di luar negeri, sering kali melontarkan tudingan tak ilmiah terhadap kelapa sawit. Salah satunya, kelapa sawit dicap sebagai tanaman yang sangat rakus air sehingga menyebabkan lahan menjadi tandus dan kering.

Celakanya, banyak masyarakat awam yang percaya begitu saja tanpa menelusuri kebenaran fakta dan ilmiahnya. Melihat kondisi ini, pengurus DPP Asosiasi Sawitku Masa Depanku (SAMADE) di Provinsi Riau, Hendri Cen, merasa cukup geram dengan hal tersebut. Sebab, fakta yang ditemukan justru berbanding terbalik dengan fitnah yang diumbar para pembenci sawit.

Baca Juga: Bukan Kelapa Sawit yang Boros Air, Tapi Tanaman Hutan Ini

"Kebun sawit saya di Pulau Birandang, Kecamatan Kampar Timur, Kabupaten Kampar justru punya deposit air yang cukup banyak," kata Hendri seperti dikutip dari Elaeis.co.

Lebih lanjut dijelaskan, saat melakukan replanting tanaman sawit yang sudah berusia di atas 20 tahun baru-baru ini, Hendri mencari sumber air untuk menyiram bibit sawit. Dengan menggunakan alat berat, dia dibantu sejumlah pekerja menggali lahan seluas 20x15 meter.

"Letak kebun sawit saya agak di atas bukit. Orang pasti berasumsi pasti sulit dapat air," ucap Hendri. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. "Baru satu kali galian, sekitar kedalaman 6-7 meter, sudah ketemu air. Padahal, taksiran kami tadinya mungkin butuh tiga kali galian baru dapat air," lanjutnya.

Lebih lanjut dijelaskan Hendri, yang membuat takjub adalah air tersebut justru terus bertambah pada keesokan harinya. "Hingga siang harinya ketinggian air naik sampai tiga meter ke atas," papar Hendri.

Fakta tersebutlah yang membuat Hendri yakin bahwa sawit justru menyimpan air. "Lah, umur tanaman sawit saya itu sudah 20 tahunan. Kalau pakai logika mereka, seharusnya air di kebun saya sudah habiskan? Nyatanya, malah air di kolam bertambah terus," tegas Hendri.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini