Kemendikbudristek Imbau Orang Tua Lakukan Pendekatan Belajar Anak dengan Mengajak, Bukan Memerintah

Kemendikbudristek Imbau Orang Tua Lakukan Pendekatan Belajar Anak dengan Mengajak, Bukan Memerintah Kredit Foto: WE

Kondisi kasus Covid-19 Indonesia yang melonjak tajam dan menyebabkan situasi nasional menjadi genting pada akhirnya berdampak terhadap penundaan proses pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas yang sempat digagas oleh pemerintah.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Jumeri mengungkapkan hanya sekitar 4% sekolah yang bisa melaksanakan PTM terbatas akibat ketentuan PPKM Darurat dan Mikro oleh pemerintah.

Baca Juga: Putus Rantai Kemiskinan dengan Pendidikan, Beasiswa Generasi Lestari Cetak 83 Sarjana

"Jadi sekolah-sekolah itu kembali ke pembelajaran jarak jauh (PJJ). Nah ini situasi yang kita antisipasi. Nanti setelah PPKM Darurat dicabut, kita berharap anak-anak bisa segera belajar kembali," ujar Jumeri dalam dialog virtual Media Center KPCPEN, Kamis (22/7/2021).

Selama pembelajaran sekolah masih dilakukan secara daring, Jumeri meminta para orang tua tidak lagi menggunakan pendekatan belajar dengan metode memerintah anak. Menurut Jumeri, orang tua harus hadir mendampingi anak sekaligus menjadi teman ketika anak-anak belajar secara daring.

"Jangan memerintah anak, tapi mengajak anak untuk belajar. Jadi diajak bukan diperintah," tegas Jumeri.

Jumeri menekankan peran orang tua adalah memberikan teladan kedisiplinan kepada anak-anak. Oleh sebab itu, orang tua tidak disarankan menggunakan model membentak atau menyuruh dalam menemani anak-anak belajar.

"Tidak lagi dengan model membentak, menyuruh, dan sebagainya. Libatkan anak, dalami hatinya, dan jadi teman yang baik bagi anak-anak kita. Pasti anak akan manut dan nurut dengan orang tua," kata Jumeri.

Terlebih, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama dengan keluarga, terutama di masa PJJ. Dengan demikian, sumber belajar pertama anak-anak berasal dari lingkungan keluarga.

"Kalau zaman normal, 60% anak-anak berada di rumah, selebihnya di sekolah dan tempat lain. Jadi, pendidikan pertama anak-anak itu ada di rumah," terang Jumeri.

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini