Fuad Bawazier: Dunia Farmasi Itu Kira-kira Seperti Dunia Narkoba tapi Legal

Fuad Bawazier: Dunia Farmasi Itu Kira-kira Seperti Dunia Narkoba tapi Legal Kredit Foto: Unsplash/Amanda Jones

Mantan Menteri Keuangan, Fuad Bawazier, menceritakan berdasarkan pengalamannya mengelola rumah sakit dan apotik memunculkan pemahaman baru baginya. Terlebih di tengah situasi pandemi Covid-19 menyebabkan konsumsi obat-obatan juga turut meningkat.

“Saya mengamati dunia farmasi itu sama saja kira-kira seperti dunia narkoba tapi legal,” ujarnya dalam diskusi Meneropong Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III 2021 Imbas PPKM Darurat yang diselenggarakan Narasi Institute, Jumat (23/7/2021).

Baca Juga: Kisah Perusahaan Raksasa: Dimulai Abad ke-18, Novartis Masih Eksis Berbisnis di Industri Farmasi

Berdasarkan pengalamannya itulah, Fuad mengungkapkan, ada dokter yang memberikan obat paten yang menjadi salah satu resepnya, sehingga perusahaan farmasi memberikan imbalan insentif khusus karena menggunakan produk obatnya sebagai salah satu resep paten.

“Saya ingat Presiden Barack Obama pernah telfon ke India dan mengatakan kok bisa obat di sana murah kita jadi tidak menembusnya,” ujarnya.

Fuad juga menceritakan, berdasarkan pengalaman kerabatnya yang mengindap kanker paru-paru, sampai membuat asosiasi penderita kanker paru-paru yang meminta anggotanya yang sering datang ke India untuk berbelanja obat di sana. Diketahui obat kanker paru-paru tersebut berjumlah 4 jenis dan salah satunya dapat diobati dan dibeli di India.

Setiap anggota yang menitip obat merogoh kocek sebesar Rp 1 juta untuk dosis obat yang diperkirakan cukup sampai satu bulan. Sedangkan di Indonesia, untuk dosis obat serupa dalam sehari bisa mencapai hampir Rp 1 juta. Padahal, obat yang dapat dibeli di Indonesia merupakan obat-obat yang diimpor dari perusahaan besar farmasi di India.

“Apalagi vaksin yang secara nasional dan internasional yang menginginkan ini janganlah cepat berlalu karena bisnis vaksin ini bisnis bermiliar-miliar dolar dan harus diperlihara. Jangan terlalu heran. Jadi jawabannya regulasinya harus kuat. Tapi apa benar yang bikin regulasi tidak ikutan digarap. Itulah susah,” pungkasnya.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini