Tingginya Produktivitas Sawit Bikin Iri Uni Eropa

Tingginya Produktivitas Sawit Bikin Iri Uni Eropa Kredit Foto: Antara/Wahdi Septiawan

Maraknya kampanye negatif yang dilakukan pihak antisawit dinilai dapat menekan daya saing Indonesia di pasar global. Lantaran, tingginya produktivitas kelapa sawit menjadi ancaman bagi industri minyak nabati lain yang dihasilkan negara-negara di Uni Eropa.

“Sebenarnya, hambatan non tarif ini bagian persaingan dagang. Sawit, misalnya, ini head to head dengan minyak nabati lain di Eropa seperti minyak kedelai, minyak bunga matahari, dan kanola. Karena, minyak nabati non sawit ini kalah dari segi produktivitas dan harga. Akibatnya sawit terus diganggu dengan kampanye negatif,” kata Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan, Kasan Muhri.

Baca Juga: Target 4 Ribu Hektar di 2021, Pekebun Sawit di Paser Rasakan Manfaat Replanting

Kasan juga memaparkan, sepanjang tahun 2020, kontribusi sawit terhadap ekspor non-migas sebesar 13,6 persen. Capaian ini menunjukkan bahwa selama pandemi, industri sawit tetap tangguh. Sebab, kelapa sawit menjadi bagian dari bahan baku produk sektor makanan, kebersihan, dan kesehatan.

Kendati demikian, ekspor sawit Indonesia di pasar global masih terus menghadapi tantangan hambatan non tarif seperti isu lingkungan dan kesehatan. Isu-isu dikampanyekan oleh sejumlah LSM internasional seperti Greenpeace, Mighty Earth, Rainforest Action Network (RAN), dan lainnya belakangan ini.

Sementara itu, Ketua Umum DPP APKASINDO, Gulat Manurung menegaskan, kampanye negatif dengan kedok lingkungan selama ini adalah bagian politik dagang internasional. Tujuannya, negara importir bisa membeli CPO dengan harga murah.

Fakta lain yang perlu diketahui bahwa isu kampanye negatif tentang sawit berbanding lurus dengan impor dari negara-negara Uni Eropa.  “Ketergantungan Uni Eropa terhadap minyak sawit sangatlah tinggi. Makanya, Eropa ingin membeli CPO Indonesia dengan harga semurah mungkin,” tegas Gulat.

Gulat juga menyatakan, Indonesia harus berani menyerang apabila sawit terus ditekan negara lain. Ibaratnya, berhenti menjadi penjaga gawang, lalu beralih menjadi penyerang. Harus dipahami bahwa sebagian besar minyak kanola dan minyak bunga matahari dihasilkan oleh petani lokal di Eropa.

“Tak terbantahkan bahwa kampanye negatif tentang sawit bagian politik dagang. Produktivitas sawit yang jauh lebih tinggi membuat penggunaan lahan jauh lebih kecil dibandingkan minyak nabati lainnya. Kalau sawit di-phase out akan memicu deforestasi lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhan dunia,” kata Gulat.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini