Banyak UMKM yang Kesulitan Masuk Ekosistem Digital, Begini Tantangan dan Solusinya

Banyak UMKM yang Kesulitan Masuk Ekosistem Digital, Begini Tantangan dan Solusinya Kredit Foto: Unsplash/Blake Wisz

Meskipun situasi pandemi memaksa UMKM untuk go digital, di realitas lapangan tak semua pelaku usaha memahami dan memiliki akses untuk masuk ke ekosistem tersebut. Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM Fiki Satari mengungkapkan, ada empat permasalahan utama dalam upaya UMKM untuk go digital.

"Pertama, literasi digital. Karena isu dari UMKM yang sudah masuk ekosistem digital pun ternyata kesiapannya lagi," kata Fiki dalam webinar Narasi Newsroom, Jumat (30/7/2021).

Baca Juga: Jadi Tulang Punggung Ekonomi Negara, Menkop Ungkap Baru 22% UMKM Go Digital di Masa Pandemi

Kemudian, permasalahan kedua adalah kapasitas produksi UMKM yang sangat terbatas; ketiga, kestabilan kualitas produk ketika ada pemesanan berulang; dan keempat adalah akses pasar.

"Nah, dua dari empat masalah ini adalah di luar isu digital. Ini harus diselesaikan secara utuh. Dari data kami yang bekerja sama dengan IDEAS survei, (dari) 1000 UMKM yang didampingi masuk ekosistem digital, 400-nya berhasil on board, (namun) hanya 40 (UMKM) yang berhasil bertransaksi," papar Fiki.

Oleh karena itu, Fiki mengatakan pihaknya mencoba melakukan pendekatan yang berbeda terhadap tiap level usaha. Misalnya bagi usaha mikro, Menkop UKM mendorong para pelaku usaha di level tersebut untuk masuk on boarding digital melalui media sosial terlebih dahulu dengan menggunakan e-catalog seperti dokumen PDF dan sebagainya.

"Tapi clickable. Ketika diklik bisa masuk ke media sosial, WhatsApp, dan seterusnya. Itu dulu dimanfaatkan sehingga tidak masuk ke e-commerce yang pasarnya bebas, besar. Ketika ada permintaan banyak akhirnya tidak bisa dipenuhi, nanti kreditnya bisa turun. Karena kan kuncinya itu testimoni," ujar Fiki.

Sementara untuk usaha kecil, Menkop UKM mendorong mereka masuk ke e-commerce lokal atau homogen yang menaungi satu jenis produk tertentu, seperti misalnya SayurBox yang menyediakan ragam produk sayuran.

"Setelah kuat, dari sisi produksinya memang memenuhi, kapasitas mulai mengejar, standar produknya juga sudah oke, baru masuk ke e-commerce tadi," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, President Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata juga memberikan beberapa rekomendasi solusi bagi UMKM yang kesulitan menggunakan akses digital.

"Biasanya kalau yang di pasar ini tidak pegang smartphone ya. Solusinya itu jastip. Dulu kita sebut Grab Assistant, tapi orang lebih mengerti jastip ya. Artinya, konsumen bisa jastip ke mitra pengemudi Grab untuk beli ke tempat tertentu. Misalnya, beli materai di warung atau beli sayur-sayuran di pasar basah," jelas Ridzki.

Kemudian, ia melanjutkan, pelaku usaha yang hanya memasarkan usahanya melalui media sosial bisa memanfaatkan fitur seperti Grab Express. Dengan demikian, pelaku usaha tetap bisa terhubung dengan konsumen meskipun tidak memasuki ekosistem digital melalui e-commerce.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini