Aset Tumbuh 34,8% YoY, PermataBank Masuk 10 Bank Komersial Terbesar di RI

Aset Tumbuh 34,8% YoY, PermataBank Masuk 10 Bank Komersial Terbesar di RI Kredit Foto: Sufri Yuliardi

PT Bank Permata Tbk (PermataBank atau Bank) mencatatkan pertumbuhan aset, pendapatan operasional, dan laba bersih yang solid di tengah pandemi COVID-19. Bank juga menjaga kualitas aset pada level yang aman serta memelihara posisi likuiditas dan permodalan untuk mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Direktur Utama PermataBank, Chalit Tayjasanant mengungkapkan, ”meskipun keadaan perekonomian Indonesia belum kembali seperti pra-pandemi, namun dengan strategi bisnis yang kami jalankan dan dukungan para nasabah, kami mampu mencetak hasil yang memuaskan di tengah 2021."

"Perluasan skala bisnis dan pertumbuhan kredit sehat, baik secara organik maupun inorganik, tetap menjadi fokus utama dalam meningkatkan kinerja PermataBank saat ini. Kami berharap dapat terus mendukung ekosistem perbankan Indonesia menuju ke arah yang lebih kuat.”

Baca Juga: Untung Makin Mengembung, Bos Bank yang Dimiliki Chairul Tanjung Ungkap Penyebabnya

Total aset Bank bertumbuh sebesar 34,8% YoY menjadi sebesar Rp212,9 triliun sehingga mencatatkan PermataBank sebagai salah satu 10 bank komersial terbesar di Indonesia berdasarkan total aset.

Penyaluran kredit tumbuh 16,6% YoY menjadi sebesar Rp120,8 triliun terutama didorong oleh pertumbuhan kredit pada segmen Wholesale Banking sebesar 39,8% YoY yang antara lain dikontribusikan dari penyelesaian integrasi dengan Bangkok Bank Indonesia di Desember 2020.

Pertumbuhan kredit Bank juga didukung oleh pertumbuhan KPR yang cukup signifikan yaitu sebesar 21,7% YoY di segmen ritel.

Sejalan dengan pertumbuhan aset, pendapatan operasional tercatat sebesar Rp4,9 triliun atau tumbuh sebesar 19,4% YoY dan laba operasional sebelum pencadangan tumbuh sebesar 36,6% YoY.

Dalam hal pencadangan kerugian penurunan nilai kredit yang diberikan, Bank tetap menjalankan prinsip kehati-hatian mengingat dampak pandemi yang masih berlanjut yang secara tidak langsung menyebabkan potensi peningkatan risiko kredit inheren.

Hal ini tercermin dalam peningkatan rasio NPL gross dan NPL net di bulan Juni 2021 menjadi masing-masing 3,3% dan 1,2%, dibandingkan dengan posisi Desember 2020 masing-masing sebesar 2,9% dan 1,0%, walaupun masih lebih baik dibandingkan posisi Juni 2020 masingmasing sebesar 3,7% dan 1,8%.

Bank mengalokasikan biaya pencadangan kerugian penurunan nilai untuk mengantisipasi potensi kerugian akibat penurunan kualitas aset sebesar Rp1,5 triliun atau meningkat 41% dibanding periode yang sama tahun lalu. Dengan demikian rasio NPL coverage tetap terjaga baik di kisaran yang cukup konservatif yaitu 218%, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 112%. Hal ini sejalan dengan prinsip kehati-hatian yang selalu diterapkan oleh Bank dalam mengelola risiko kredit.

Pada kuartal II 2021, Bank berhasil membukukan Laba Bersih setelah pajak sebesar Rp639 miliar atau meningkat secara signifikan 74,3% dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp366 miliar.

Posisi likuiditas Bank terjaga kuat yang tercermin pada rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 75% pada akhir Juni 2021, turun dibandingkan dengan posisi tahun lalu yang sebesar 81%. Hal ini dikontribusikan antara lain oleh peningkatan simpanan nasabah yang tumbuh sebesar 25,0% YoY dengan rasio CASA sebesar 52%, menguat dibandingkan posisi Desember 2020 sebesar 51%.

Rasio permodalan Bank dengan rasio CAR dan CET-1 sebesar masing-masing 35,4% dan 26,9%, jauh lebih kuat dari rasio CAR rata-rata industri perbankan di kisaran 24%, menjadi key enabler bagi Bank untuk mempercepat pertumbuhan bisnis baik secara organik maupun inorganik.

Selanjutnya
Halaman

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini