Kasus Covid-19 Turun Malah Jadi Alasan WFO, Duh Duh.. Kantor Pemerintah Banyak yang Langgar Prokes?

Kasus Covid-19 Turun Malah Jadi Alasan WFO, Duh Duh.. Kantor Pemerintah Banyak yang Langgar Prokes? Kredit Foto: Reuters/Amir Cohen

Selama pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, pelanggaran protokol kesehatan (prokes) di perkantoran cukup tinggi. Pelanggaran didominasi oleh kantor swasta. Parahnya, kantor pemerintah yang seharusnya menjadi teladan juga melaku­kan hal yang sama.

Akun laporcovid19 mengungkap, telah menerima 95 laporan terkait pelanggaran prokes di perkantoran. Dari jumlah tersebut, sebanyak 79 di antaranya terjadi di kantor swasta dan 16 laporan lainnya berasal dari instansi pemerintah.

Baca Juga: Tangkal Covid, PYFA Bagikan Satu Juta Vitamin Gratis

“Abai protokol kesehatan artinya abai ter­hadap keselamatan pekerjanya. Pengawasan kebijakan prokes di perkantoran perlu diting­katkan dan sanksi tegas harus diberikan bagi yang melanggar aturan, tanpa terkecuali,” ujar laporcovid19.

Natha_sya12 membenarkan masih terjadi pelanggaran prokes di kantor pemerintahan. Kata dia, di kantor lingkungannya kerja, prokesnya mulai kendur. Imbauan yang bek­erja di kantor 25 persen, kenyataannya kary­awan malah disuruh masuk semua.

“Benar ini teledor banget. Sudah gitu ban­yak yang lepas masker,” ungkapnya.

Azkaazfarramadhan mengakui, di kan­tornya sudah biasa lepas masker ketika masuk kantor. Pada orang yang berpendidikan tinggi pun, kata dia, banyak yang abai prokes.

“Yes, betul banget. Malah pada masih suka ngopi-ngopi habis jam kantor. Lembur sampai malam, kadang sampai nggak kenal waktu. ASN lho padahal,” tambah fema_dc.

Bachri1944 mengaku pernah melihat send­iri di kantor kecamatan. Kata dia, kegiatan pengarahan kepada petugas penertiban PPKM malah bikin kerumunan dan sangat banyak yang abai prokes. “Artinya, ini adalah perilaku disonansi kognitif,” tuturnya.

Endangganefiati63 mengatakan, kantor swasta yang paling tinggi pelanggaran prokesnya adalah sektor perbankan. Soalnya, kata dia, target para banker tinggi. “Marketing tetap harus jalan, tentu dengan banyaknya risiko,” katanya.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini