Potensi Penularan Varian Delta Sangat Tinggi: Kerja Sama dan Kesadaran Masyarakat Sangat Diperlukan

Potensi Penularan Varian Delta Sangat Tinggi: Kerja Sama dan Kesadaran Masyarakat Sangat Diperlukan Kredit Foto: Antara/FB Anggoro

Pemerintah terus berupaya memantau perkembangan varian virus COVID-19 yang baru, agar dapat melakukan langkah-langkah pencegahan penyebaran. Termasuk di dalamnya varian Delta yang menjadi perhatian banyak negara disebabkan oleh tingkat penularannya yang tinggi. Perlu kerja sama semua pihak untuk menghambat tingkat transmisi, seperti dipaparkan dalam Live Siaran Pers PPKM Rabu 28 Juli 2021.

Sejak dimulainya pelaksanaan PPKM Darurat pada awal 2021, yang dilanjutkan dengan PPKM Level 3 dan 4, jumlah pemeriksaan laboratorium terus meningkat untuk mencapai standard rate testing WHO. Jejaring laboratorium genomic sequencing (metode pengurutan genom untuk memetakan mutasi virus) di bawah komando Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) terus berupaya menelusuri pola persebaran varian virus COVID-19 di Indonesia. Baca Juga: Covid-19 Varian Delta Plus Sudah Masuk Indonesia, Lebih Bahaya?

Sejak awal tahun 2021 hingga 28 Juli, Indonesia telah melaporkan 3,651 hasil sequencing atau pengurutan, ke dalam database global. Tercatat di dalamnya, 3 dari 4 varian virus Corona yang harus diwaspadai, yaitu varian Alfa, Beta dan Delta. Baca Juga: Filtrasi Capai Lebih dari 80%, Pakai Masker Ganda Ya!

“Varian Delta mendominasi 86% spesimen yang dilakukan sequencing dalam 60 hari terakhir, dan berasal dari 24 provinsi, sehingga dapat dikatakan persebaran ini hampir merata di seluruh Indonesia,” ungkap dr. Siti Nadia Tarmizi M.Epid, Juru Bicara COVID-19 Kemenkes, dalam Live Siaran Pers PPKM Rabu lalu. Dokter Nadia menekankan, bahwa hal ini patut menjadi perhatian bersama, lantaran potensi penularan varian ini sangat tinggi.

Untuk menekan penyebaran COVID-19, pemerintah melakukan penguatan testing dan tracing terutama di pemukiman padat penduduk. Mekanisme tracing atau pelacakan juga akan menggunakan sistem perangkat lunak Silacak untuk memudahkan mengetahui kontak erat pasien. Kontak erat akan diarahkan melakukan karantina dan entry test. Pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan volume testing dari sekitar 300 ribu menjadi 500 ribu testing per hari.

Kemudian, percepatan vaksin untuk menaikkan imunitas tubuh. Vaksinasi juga mengurangi risiko tertular, menderita sakit berat, bahkan risiko kematian dari pasien terjangkit COVID19. Karena itu, pemerintah untuk terus meningkatkan kedatangan pasokan stok vaksin selain terus berusaha memberikan edukasi dan menambah kapasitas jangkauan vaksinasi.

Untuk mendampingi upaya-upaya yang dilakukan pemerintah, diharapkan partisipasi dan kesadaran masyarakat dalam membantu menghambat bahkan memutus transmisi virus. Penerapan 3M, ditambah mengurangi mobilitas dan menghindari kerumunan tetap perlu dilakukan. Di sisi lain, bagi mereka yang telah terpapar atau menjadi kontak erat, juga perlu melakukan tindakan-tindakan tertentu.

Sebagai tindak pencegahan penyebaran, anggota masyarakat yang terdeteksi sebagai kasus positif, diharapkan langsung melapor kepada petugas setempat agar dapat dipantau dan dihubungkan dengan akses kesehatan. Kemudian yang harus segera dilakukan adalah upaya pemutusan transmisi; yaitu isolasi serta penelusuran kontak erat.

Setelah kontak erat ditemukan, atau dengan suka rela melapor, maka proses selanjutnya adalah karantina dan tes SWAB terhadap kontak erat tersebut. Dokter Nadia menegaskan, bahwa itu adalah upaya awal memutus rantai penularan di tingkat individu. Karenanya, memang kerja sama dari pihak keluarga dan kontak erat pasien sangat diharapkan, agar petugas mendapatkan informasi aktual.

Saat ini tercatat tren penambahan kasus masih tinggi dengan rata-rata 40 ribuan kasus per hari, dan bisa dibilang tidak ada wilayah yang betul-betul steril dari COVID-19. Sementara potensi penularan varian Delta sangat tinggi dan menjadi salah satu faktor meningkatnya angka kematian. Pemerintah sangat mewaspadai hal ini, dan mengharapkan kolaborasi segenap pihak mulai dari tingkat individu untuk mengatasinya.

Sementara itu, Pemerintah juga terus menguatkan pelaksanaan 3T, agar deteksi dini dapat dilakukan pada masyarakat dan kontak eratnya, sehingga mereka dapat segera mendapatkan arahan dan perawatan, Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate mengatakan, “Selain terus memantau peta mutasi varian virus baru di Indonesia, kami terus menekankan pentingnya protokol kesehatan sebagai upaya pencegahan penularan."

“Edukasi dan sosialisasi terkait COVID-19 juga terus dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, agar masyarakat patuh dan disiplin terhadap protokol kesehatan. Dalam hal ini, kita semua adalah kanal amplifikasi berita baik dan informasi yang benar, jadi mari bekerja sama untuk itu,” pungkasnya.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini