Layangkan Somasi Kedua, Pengacara Moeldoko Tegaskan Hal Ini ke ICW

Layangkan Somasi Kedua, Pengacara Moeldoko Tegaskan Hal Ini ke ICW Kredit Foto: Instagram/Moeldoko

Tim pengacara Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal (Purn) Moeldoko meminta agar Indonesian Corruption Watch (ICW) tak cuma berkoar-koar di media massa terkait tuduhan pemburu rente obat ivermectin untuk Covid-19. Tim pengacara Moeldoko menegaskan agar ICW menjadikan hasilĀ  investigasinya itu ke pelaporan resmi untuk penyidikan dan pengadilan hukum.

Ketua tim pengacara Moeldoko, Otto Hasibuan, mengatakan bahwa ICW harus membuktikan kredibilitasnya sebagai lembaga swadaya masyarakat. Menurut Otto, ungkapan-ungkapan ke media hanya akan menjadi tuduhan dan fitnah serius terhadap kliennya yang berpotensi pemidanaan, jika tak dapat dibuktikan.

Baca Juga: Masuk 3 Besar, Demokrat Akui Ada 'Peran' Moeldoko

"Jadi, ICW jangan hanya berkoar-koar di media. Kalau ada bukti keterlibatan klien kami, Pak Moeldoko, silakan lapor ke yang berwajib, aparat penegak hukum (untuk penyelidikan dan penyidikan)," ujar Otto, saat konferensi pers daring, Kamis (5/8).

Sementara Moeldoko, Otto menegaskan, akan meladeni dan siap untuk bertanggung jawab jika tuduhan ICW dapat dibuktikan di jalur hukum. "Jadi kalaupun dilaporkan ke pihak berwajib, Pak Moeldoko siap bertanggung jawab, baik secara hukum dan moral karena ini menyangkut nama baik klien kami. Sebaliknya, kalau ICW adalah lembaga yang kredibel, harus mempertanggungjawabkan tuduhannya itu," tegas Otto.

Otto, atas nama Moeldoko, kembali melayangkan somasi kepada ICW, Kamis (5/8). Somasi kali ini adalah yang kedua dialamatkan terkait perilisan hasil investigasi ICW tentang Polemik Ivermectin: Berburu Rente di Tengah Krisis.

Moeldoko sudah melayangkan somasi pertama pada 29 Juli kemarin. Namun, somasi kali ini Moeldoko memberikan waktu yang lebih panjang agar ICW mencabut pernyataan tentang keterlibatan Moeldoko dan meminta maaf atas tuduhan memburu rente dan mencari keuntungan pribadi terkait pemasaran ivermectin dan ekspor beras.

"Kalau kemarin (pada somasi pertama) kita berikan waktu 1x24 jam. Kali ini (somasi kedua), kalau tidak cukup, bila perlu kita berikan waktu 3x24 jam kepada ICW," ujar Otto.

Seperti somasi pertama yang dilayangkan Moeldoko, somasi kedua kali ini, kata Otto, kliennya pun menuntut yang sama terhadap ICW. Meminta ICW menyampaikan bukti-bukti terkait peran Moeldoko mencari keuntungan pribadi dan perburuan rente dalam peredaran, maupun pemasaran obat pereda Covid-19, Ivermectin, di masyarakat.

Selanjutnya, kata Otto, juga agar ICW menyampaikan bukti-bukti, keterlibatan Moeldoko, dalam mencari keuntungan pribadi, terkait dugaan skandal ekspor beras. "Itulah yang kami mintakan kepada ICW untuk membuktikan. Kalau ICW bisa memberikan bukti-bukti keterlibatan klien kami, Pak Moeldoko, kami nyatakan tegas, siap mempertanggungajawabkan, baik secara moral maupun secara hukum," kata Otto.

Akan tetapi sebaliknya, Otto meyakinkan, jika pun tak mampu membuktikan tuduhannya itu, Moeldoko hanya ingin agar ICW meminta maaf terbuka dan mencabut perilisannya tentang Polemik Ivermectin: Berburu Rente di Tengah Krisis.

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini