Muhammadiyah Singgung 'Politisi Ikan Lele', Politikus PDIP Bereaksi

Muhammadiyah Singgung 'Politisi Ikan Lele', Politikus PDIP Bereaksi Kredit Foto: Instagram/Arteria Dahlan

Anggota DPR RI Fraksi PDIP, Arteria Dahlan, turut mengomentari pernyataan bernada kritis Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti yang menyinggung figur "politisi ikan lele" di tengah pandemi Covid-19.

Menurutnya, apa yang disampaikan Abdul Mu'ti merupakan seruan moral yang cukup pedas. "Sederhananya, beliau menyampaikan seruan moral yang cukup pedas, tetapi cukup objektif dan rasional kalau kita bijak menerimanya," kata Arteria dilansir dari Suara.com, Minggu (8/8/2021).

Baca Juga: PDIP Jaga Jarak dengan Jokowi, Ternyata Presiden Berpotensi Diberhentikan Karena Membahayakan Negara

Arteria menyampaikan, memang pada situasi pandemi seperti ini ada beberapa pihak yang coba-coba memanfaatkan. Semua dilakukan menurutnya demi kepentingan pribadi hingga kelompok.

Ia mengatakan, cukup mengapresiasi bila ada pihak-pihak yang mengkritik pemerintah terutama soal penanganan pandemi. Ia menilai justru kritik bagus disampaikan agar tak ada kesan jarak antara pemerintah dan rakyatnya.

"Akan tetapi, saya tetap berharap agar setiap dan segala kritik yang dihadirkan tentunya harus proporsional, objektif, berdasar dan feasible untuk dikerjakan. Kan kalau mau jujur, fungsi pemerintahan negara ini sudah hampir seluruhnya fokus pada penanggulangan Covid dan pemulihan ekonomi nasional. Jadi kalau dibilang pemerintah abai ya juga tidak benar," tuturnya.

Lebih lanjut, Politikus PDIP ini meminta agar pihak-pihak tak menjadi politisi ikan lele seperti apa yang disinggung Abdul Mu'ti. Menurutnya, semua harus membangun narasi positif. "Coba lihat negara-negara lain, semuanya satu padu kompak atara pemimpin dan yang dipimpin karena musuhnya itu Covid, bukan sesama kita sendiri," tandasnya.

Sebelumnya, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti menyatakan bahwa buruknya penanganan pandemi Covid-19 tidak hanya disebabkan oleh dampak sosial dan ekonomi semata, tapi juga oleh "politisi ikan lele".

Menurut Mu’ti, istilah Politisi Ikan Lele adalah ungkapan yang dipinjamnya dari Buya Syafi’I Ma’arif untuk menunjuk pada mereka yang senang tampil memperkeruh suasana dan mengadu domba.

"Saya menyebut politisi ini tidak selalu mereka yang menjadi pengurus partai politik, tetapi orang yang pikirannya selalu mengaitkan berbagai keadaan itu dengan politik, berbagai persoalan dipolitisasi," kata Mu'ti.

Menurut Mu'ti, politisi ikan lele itu adalah politisi yang makin keruh airnya maka dia itu makin menikmati kehidupannya. Untuk itu, kata dia, sekarang ini banyak sekali orang yang berusaha memancing di air keruh dan memperkeruh suasana.

Mu'ti kemudian menjabarkan ciri-ciri yang masuk dalam katagori politisi ikan lele. Ia mengatakan, pada umumnya para politisi tersebut bersikap partisan dan menggunakan popularitasnya sebagai pendengung.

"Misalnya banyak yang mengaitkan dengan teori-teori konspirasi yang mengatakan bahwa Covid ini adalah buatan China, dan ini adalah cara China melumpuhkan Indonesia dan sebagainya," tuturnya.

"Saya kira pandangan-pandangan spekulatif itu tidak dapat kita benarkan, tapi itu juga berseliweran di masyarakat sehingga dalam keadaan yang serba sulit seperti sekarang ini ada kelompok-kelompok tertentu yang saya pinjam istilahnya Buya Syafii Ma’arif itu seperti politisi ikan lele," sambungnya.

Lebih lanjut, Mu'ti berharap masyarakat tak terhasut oleh para politisi ikan lele tersebut. Menurutnya, tindakan yang dilakukan para politisi tersebut tak bertanggung jawab.

Investasi terbaik ialah investasi leher ke atas. Yuk, tingkatkan kemampuan dan keterampilan diri Anda dengan mengikuti kelas-kelas di WE Academy. Daftar di sini.

Lihat Sumber Artikel di Suara.com Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Suara.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Suara.com.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini