Bikin Startup Harus ‘Bakar Duit’? Indogen Capital: "Siapa Bilang?"

Bikin Startup Harus ‘Bakar Duit’? Indogen Capital: "Siapa Bilang?" Kredit Foto: Taufan Sukma

Perkembangan bisnis startup dalam beberapa waktu terakhir benar-benar pesat dan bahkan di luar bayangan banyak pihak. Sebut saja Gojek, Traveloka, Bukalapak, Kopi Kenangan, Upnormal dan sebagainya, merupakan deretan contoh startup buatan Indonesia yang berhasil berkembang pesat dan kini malah menjadi perusahaan unicorn, yaitu sebutan bagi sebuah entitas bisnis yang telah memiliki nilai valuasi di atas US$1 miliar. Tak heran, dengan banyaknya kisah suskes tersebut, tak sedikit pihak yang tertarik untuk memulai bisnis serupa.

Namun demikian, meski telah banyak kisah sukses bisnis startup yang dapat dijadikan inspirasi, sebagian pihak masih cukup enggan untuk memulai bisnis startupnya sendiri. Keengganan itu diantaranya didasarkan pada anggapan sejumlah pihak yang menganggap bahwa untuk memulai bisnis startup wajib memiliki modal besar di awal bisnis karena pola pengembangannya menggunakan sistem ‘bakar duit’. “Memang banyak orang yang bilang bahwa bisnis startup itu bisnis ‘bakar duit’, kasih promo gila-gilaan di awal, buang budget banyak untuk branding dan sebagainya. Bahkan ada yang lebih sadis lagi bilang bahwa bisnis startup itu nggak mikirin profit. Pertanyaan saya, bisnis tanpa mikirin profit terus apa yang dicari? No, startup bukannya tidak memikirkan profit. Dan bisnis startup juga bukan soal ‘bakar duit’ saja,” ujar Managing Partner Indogen Capital, Chandra Firmanto, dalam wawancara ekslusif secara virtual dengan Warta Ekonomi TV, Kamis (12/8).

Menjawab kesalahpahaman masyarakat dalam memahami bisnis startup, Chandra menyebut bahwa bisnis startup sedari awal justru sangat memperhatikan potensi profit dari ceruk bisnis yang akan digarap. Potensi tersebut diperhitungkan dengan cermat bersama dengan arah pengembangan yang sesuai dengan karakter bisnis yang akan digeluti. Proses pengembangan itu menurut Chandra harus dilakukan dengan cepat karena sistem bisnis startup biasanya tidak menggunakan pinjaman perbankan, melainkan suntikan modal dari modal ventura (venture capital). “Faktor kecepatan sangat penting bagi startup karena modal mereka tidak dari perbankan tapi dari investor. Kalau pinjaman bank (perkembangan bisnisnya) mau lama tidak masalah, asal tetap bayar cicilan berikut bunganya. Tapi investor tentu ingin sesegera mungkin balik modal. Break Event Point (BEP),” tutur Chandra.

Karena ada tuntutan agar mampu growth secepat mungkin itulah, para pebisnis startup bahkan rela mengorbankan revenue hingga income demi bisnisnya bisa sesegera mungkin scalling up. Pada titik inilah, dikatakan Chandra, pengamatan masyarakat awam menyebutnya ‘bakar duit’. “Tapi apakah dengan membakar duit lalu mereka tidak berpikir profit? No. Mereka justru sangat mengejar profit. Orang bilang ‘membakar duit’ tadi adalah proses mencapai goals, dan seperti bisnis-bisnis yang lain, goals yang dikejar itu at the end ya profit,” tegas. Chandra.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini