Pengamat Nilai Dampak Burden Sharing Tak Seburuk yang Dikhawatirkan

Pengamat Nilai Dampak Burden Sharing Tak Seburuk yang Dikhawatirkan Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A

Direktur Center of Information and Development Studies (CIDES) Umar Juoro menilai, dampak dari skema burden sharing antara Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Bank Indonesia (BI) tak seburuk yang dikhawatirkan.

"Kekhawatiran yang selalu menjadi kritik kalau itu pengaruhnya negatif terhadap kebijakan moneter, nilai rupiah, dan inflasi. Walaupun sekarang kalau kita lihat tidak besar pengaruhnya, relatif stabil, inflasi juga rendah. Kalau dilihat ada pergerakan di rupiah itu kan tidak terlalu terkait dengan burden sharing ini," kata Umar dalam diskusi daring Narasi Institute, Jumat (27/8/2021).

Baca Juga: BI dan Kemenkeu Jepang Perkuat Kerja Sama Transaksi Mata Uang Lokal

Menurut Umar, yang menjadi kekhawatiran para pengkritik adalah mereka menilai burden sharing ini seperti eksperimen radikal karena akan membebani BI serta kebijakan moneter.

"Kalau mau dilihat dari situ memang patut ada concern mengenai hal tersebut. Namun, kan yang mau dilihat juga dari keinginan presiden itu adalah bahwa semua pihak itu, terutama pemerintah dan swasta, itu berpartisipasi dalam pemulihan ekonomi. Inilah yang terjadi di burden sharing," lanjut Umar.

Umar menyampaikan, dirinya sering berdiskusi dengan para investor, baik domestik maupun luar negeri. Berdasarkan diskusinya, para investor memang memiliki kekhawatiran terkait burden sharing tersebut. Akan tetapi, kata Umar, dampak negatifnya tidak sebesar yang dikhawatirkan sebelumnya.

"Tapi paling tidak, impact negatifnya, terutama terhadap independensi bank sentral dalam kebijakan moneter dan juga terhadap stabilitas nilai rupiah dan inflasi itu tidak sebesar yang dikhawatirkan sebelumnya. Itu yang menurut saya menjadi catatan," tuturnya.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini