Taliban Segera Gandeng China, Umat Muslim Uighur di Afghanistan Ketar-Ketir

Taliban Segera Gandeng China, Umat Muslim Uighur di Afghanistan Ketar-Ketir Kredit Foto: Flickr/TravelingMipo

Sejumlah orang berkumpul di sebuah rumah di kota Mazar-i-Sharif, awal pekan ini, setelah situasi Afganistan mulai mereda seusai Taliban kembali berkuasa.

Mereka datang diam-diam. Ada yang tiba sendirian, ada juga yang datang berdua. Mereka menghindari perhatian.

Baca Juga: Kuku China Menancap di Afghanistan, Digenjotnya Investasi hingga Uang Perdamaian

Orang-orang tersebut adalah sesepuh dari komunitas Uighur di kota kawasan utara Afganistan itu.

Beberapa anggota keluarga dan kerabat mereka lainnya yang mengikuti pertemuan tersebut melalui Skype.

Suasana di dalam rumah sangat mencekam. Hanya ada satu topik yang mereka bicarakan, yaitu cara melarikan diri.

Seorang laki-laki paruh baya mulai menelepon sejumlah aktivis di Turki untuk mencari bantuan. Salah satu yang dia hubungi tidak menjawab.

Aktivis lainnya berkata akan melakukan semua yang dia bisa untuk komunitas Uighur tersebut. Namun saat ini tidak banyak yang aktivis itu bisa lakukan.

Orang-orang di ruangan itu mendesak laki-laki tersebut untuk terus mencoba memanfaatkan teleponnya. Meski begitu tidak ada kabar baik.

Akhirnya, setelah malam tiba, mereka pulang dengan hati-hati, sama seperti saat mereka tiba, tapi lebih sedih dari sebelumnya.

"Kami tidak memiliki siapa pun yang dapat membantu kami saat ini," kata seorang dari mereka kepada BBC.

"Kami ketakutan. Semuanya ketakutan," tuturnya.

Seperti jutaan warga Afghanistan lainnya, komunitas Uighur di negara itu sadar akan menghadapi kenyataan berbeda di bawah Taliban.

Orang Afghanistan lainnya, juga mencemaskan situasi yang lebih buruk di bawah Taliban.

Namun, mereka juga mengkhawatirkan hal lainnya, yaitu pengaruh China yang lebih besar terhadap mereka.

Ada sekitar 12 juta orang Uighur di China. Mayoritas dari mereka tinggal di Provinsi Xinjiang. Sejak tahun 2017, mereka dan minoritas Muslim lainnya menjadi target kebijakan seperti penahanan massal, pengawasan, kerja paksa, dan menurut beberapa laporan, sterilisasi, penyiksaan dan pemerkosaan.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Suara.com Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Suara.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Suara.com.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini