Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Bukan Nakut-nakutin, Wanti-wanti Covid-19: Gelombang Tiga Bisa Terjadi, Jika...

Bukan Nakut-nakutin, Wanti-wanti Covid-19: Gelombang Tiga Bisa Terjadi, Jika... Kredit Foto: Antara/Mohammad Ayudha
Warta Ekonomi, Jakarta -

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengingatkan semua pihak untuk tetap waspada meski tren perbaikan kasus Covid-19 terus terjadi dalam satu pekan terakhir. Bukan tidak mungkin, gelombang tiga akan terjadi jika tidak waspada.

Saat ini, kata dia, penerapan 3T (testing, tracing, treatment) masih sangat lemah dan jauh dari memadai. "Ancaman gelombang ketiga nyata ada. Setidaknya September dan Oktober bisa terjadi ancaman itu . Ini yang harus disadari," kata dia kepada Republika.co.id, Selasa (31/8).

Baca Juga: Belajar dari Keberhasilan Kudus Kendalikan Lonjakan Kasus COVID-19

Positivity rate Covid-19 terus menurun dalam tujuh hari terakhir, begitu juga dengan tingkat keterisian rumah sakit kasus Covid-19 yang semakin membaik dengan rata-rata BOR nasional sekitar 27 persen. Namun, menurut Dicky, masa krisis belum lewat sepenuhnya.

"Kita memang sudah lewat puncaknya, namun masa krisis belum berakhir," kata Dicky.

Ia menerangkan, rata-rata masa krisis adalah 12 pekan. Artinya, masa krisis diperkirakan masih akan berlanjut hingga akhir September. "Nah ini yang berbahaya kalau pelonggaran terjadi dan tidak terkendali dan tidak terukur tidak berbasis indikator pandemi dan epidemi yang kuat," tuturnya.

Ia menekankan, positivity rate Covid-19 setidaknya harus sudah mengarah di bawah 10 persen. Tak hanya itu, pelonggaran yang dilakukan pun harus benar-benar taat pada indikatornya.

"Misalnya 50 persennya, 70 persennya, maupun durasi atau kapasitas. Ini yang harus dilakukan," ujar dia.

Selain itu, meski vaksinasi terus meningkat, namun capaiannya masih jauh dari target. Hal ini lantaran jumlah yang sudah divaksinasi tidak sampai setengah dari jumlah populasi penduduk.

"Dari setengah populasi aja masih jauh. Di tengah ancaman varian Delta ini, kita terancam varian lainnya yang bisa lebih hebat dari varian Delta. Mengingat varian delta ini belum selesai," ucapnya.

Pada Senin kemarin, Presiden Jokowi memutuskan tetap memperpanjang kebijakan PPKM meskipun perkembangan kasus Covid-19 semakin menunjukan tren penurunan. Perpanjangan PPKM ini mulai berlaku pada 31 Agustus hingga 6 September 2021.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Editor: Alfi Dinilhaq

Tag Terkait:

Bagikan Artikel:

Video Pilihan