PLN Sebut Penggunaan Kendaraan Bertenaga Listrik Lebih Ekonomis Dibandingkan dengan BBM

PLN Sebut Penggunaan Kendaraan Bertenaga Listrik Lebih Ekonomis Dibandingkan dengan BBM Kredit Foto: Sufri Yuliardi

Wakil Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengungkapkan dalam jarak yang sama, kendaraan yang menggunakan listrik lebih ekonomis seperempat hingga seperlima dibandingkan dengan menggunakan bahan bakar minyak (BBM).

“Berkendara di dalam kota dengan 1 liter seharga Rp 9.000 mampu berjalan 10 km. Dengan jarak yang sama, sejajar dengan 1 Kwh yang harganya Rp 1.500,” ujarnya pada Temu Online Makin Asik Pakai Kendaraan Listrik yang diselenggarakan berkat kerja sama IPRAHUMAS PC KESDM. PT PLN (Persero), dan Energy Academy Indonesia (ECADIN), Rabu (1/9/2021).

Baca Juga: Ditjen Ketenagalistrikan Targetkan 31.859 SPKLU dan 67.000 SPBKLU di Tahun 2030

Darmawan mengatakan karena listrik PLN di malam hari lebih banyak yang tidak terpakai, harga tersebut bisa didapat lebih ekonomis yakni sebesar Rp 1.000 per Kwh di malam hari.

Adapun tenaga listrik yang menghasilkan energi kinetis dapat menghasilkan efisiensi kinerja mesin sebesar 70-80 persen. Hal tersebut berbeda jika dibandingkan dengan kendaraan yang masih menggunakan BBM, hanya mampu memberikan efisiensi sebesar 12-15 persen, sehingga menyebabkan mesin mudah panas.

Sedangkan berdasarkan aspek emisi gas karbon, kata Darmawan, untuk 1 liter BBM dengan jarak tempuh 10 km menghasilkan total 2,4 kg emisi karbon yang terbuang di jalanan. Sedangkan bila menggunakan listrik, emisi karbon yang dihasilkan sebesar 800 gram yang hanya terpusat di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).

“Ke depan kami akan mempensiunkan PLTU Batubara kami. Tahun 2026 akan hilang semua, akan digantikan energi bersih berbasis EBT,” katanya.

Darmawan juga menambahkan saat ini kebutuhan minyak selama sebelum pandemi sebesar 1,3 juta hingga 1,5 juta barel per hari. Hal tersebut yang menyebabkan impor minyak ke Indonesia hingga saat ini. Hal tersebut dikarenakan produksi minyak Indonesia masih sebanyak 700 ribu barel per hari. Sedangkan selama 10 tahun mendatang produksi minyak Indonesia menyisakan 500 ribu barel per hari.

Selain itu, kata Darmawan, impor BBM yang sudah mendekati angka Rp 200 triliun, menyebabkan pertumbuhan ekonomi mengalami minus 1 persen jika dibandingkan dengan PDB yang mencapai Rp 15.000 triliun. Hal tersebut yang nantinya akan menyebabkan terjadinya perlambatan perekonomian.

“Artinya mahal BBM, murah listrik tadinya tidak ramah lingkungan menjadi ramah lingkungan apalagi nanti tidak ada emisi gas karbon. Apalagi nanti energi impor jadi energi domestik,” jelasnya.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini