Tiga Juta Vaksin Sinovac Ditolak, Mintanya ini...

Tiga Juta Vaksin Sinovac Ditolak, Mintanya ini... Kredit Foto: Antara/Nova Wahyudi

Korea Utara menolak hampir tiga juta dosis vaksin Sinovac. Korea Utara mengimbau agar seluruh vaksin tersebut diberikan kepada negara lain yang lebih membutuhkan.

Juru Bicara UNICEF mengungkapkan bahwa ada 2,97 juta dosis vaksin Sinovac yang ditawarkan oleh COVAX kepada Republik Rakyat Demokratik Korea atau Korea Utara.

Akan tetapi, Korea Utara secara resmi telah meminta agar seluruh dosis tersebut dialokasikan ke negara-negara lain yang terkena dampak berat akibat Covid-19.

"Mengingat terbatasnya pasokan global vaksin Covid-19 dan lonjakan berulang di beberapa negara," sambung Juru Bicara UNICEF, seperti dilansir Insider, Kamis (2/9).

Selain itu, Institute for National Security Strategy (INSS) juga mengungkapkan bahwa Korea Utara cenderung skeptis terhadap efikasi vaksin Sinovac. Mereka menilai Korea Utara lebih memilih vaksin Covid-19 buatan Rusia Sputnik, akan tetapi mereka ingin vaksin tersebut diberikan secara gratis.

Ini bukan kali pertama Korea Utara menolak pasokan vaksin Covid-19 yang diberikan kepada mereka. Sebelumnya, COVAX telah berencana mengirimkan hampir dua juta dosis vaksin AstraZeneca kepada Korea Utara.

Akan tetapi per Juli lalu, Korea Utara menolak vaksin AstraZeneca karena khawatir mengenai potensi efek samping yang langka berupa pembekuan darah.

Saat ini Korea Utara dilaporkan tak memiliki kasus Covid-19 aktif. Di sisi lain, beberapa ahli meragukan akurasi angka tersebut.

Per Juni lalu, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dilaporkan sempat mengecam pejabat-pejabat Korea Utara.

Sang pemimpin menilai para pejabat tampak tidak bertanggung jawab dan tidak mampu menangani pandemi. Hal tersebut dinilai menyiratkan bahwa Covid-19 mungkin sudah mencapai negara tersebut

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini