Simak! Ini Rahasia Allianz Indonesia Tetap Berdaya Tahan di Masa Pandemi

Simak! Ini Rahasia Allianz Indonesia Tetap Berdaya Tahan di Masa Pandemi Kredit Foto: Unsplash/Rio Lecatompessy

Allianz Indonesia berkomitmen penuh untuk menerapkan Governance Risk Compliance (GRC) dalam kondisi apapun agar tetap dapat mencapai tujuan untuk memberi perlindungan kepada lebih banyak masyarakat Indonesia.

Terkait hal tersebut, Allianz Indonesia berpartisipasi pada GRC Summit 2021, yang merupakan rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Indonesia Risk Management Professional Association (IRMAPA).

Hadir sebagai perwakilan dari Allianz Indonesia, Adrianus Darmawan, Chief Risk Officer Allianz Life Indonesia yang membawakan materi pada sesi diskusi panel mengenai GRC for Resilience. Implementasi GRC di Allianz Indonesia memiliki peran signifikan untuk memungkinkan organisasi mengantisipasi situasi ketidakpastian terkait pandemi dan dinamika kebijakan yang menyertainya. Baca Juga: Allianz Indonesia Luncurkan Asuransi Perjalanan dengan Ekstra Perlindungan untuk Pandemi

Adrianus menggambarkan GRC dengan analogi rubik cube yang dapat bergerak dinamis, namun tetap berwujud utuh sebagai satu kesatuan bentuk. GRC dapat menjadi enabler untuk respon agilitas dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian. Sisi rubik mengilustrasikan elemen-elemen perusahaan, sedangkan mekanisme inti dari rubik itu adalah kerangka kerja GRC yang menjaga kesatuan bagi seluruh sisi rubik tersebut.

GRC bisa dan harus berfungsi sebagai kerangka kerja yang mengikat elemen bisnis dengan penempatan akuntabilitas, untuk secara keseluruhan dapat bekerja bersama memberikan nilai kepada perusahaan, Keseluruhan elemen dapat bergerak tanpa tercerai-berai ketika organisasi memiliki tujuan, pemahaman dan arah yang sejalan.

"Dengan memiliki kerangka kerja GRC terintegrasi, memungkinkan perusahaan menerapkan pendekatan terstruktur yang akan memungkinkan risk conscious decision making untuk mengantisipasi dampak negatif terhadap aspek seperti strategi, operasional, finansial, organisasi, maupun kepatuhan," tukasnya di Jakarta, Jumat (3/9/2021).

Menurutnya, pada awal tahun 2020 lalu sebelum kondisi ditetapkannya pandemi, Allianz Indonesia sudah melakukan beberapa antisipasi seperti membagikan vitamin dan hand sanitizer kepada seluruh karyawan. Allianz Indonesia mengantisipasi lebih lanjut dengan pelaksanaan proses crisis management, perusahaan merespon dengan cepat serta melakukan perubahan agar tetap dapat memastikan keberlanjutan kegiatan operasional untuk memenuhi layanan bagi masyarakat. Baca Juga: Allianz Personal Care: Pengguna Sepeda dan Motor Dapat Lindungi Diri Kapan pun, di Mana pun

Allianz telah memulai journey untuk meningkatkan kemampuan digital sejak beberapa tahun lalu, sebagai bagian dari agenda Allianz Group. Pandemi menjadi katalis yang mempercepat peningkatan kemampuan digital perusahaan.

“Pada awal masa pandemi, GRC yang diterapkan di Allianz Indonesia telah membantu identifikasi risiko lebih awal yang memungkinkan antisipasi lebih awal, contohnya denggan penyediaan perangkat remote working, sistem digital yang mendukung bisnis, didukung kolaborasi dan komunikasi yang baik sehingga memungkinkan kami membuat keputusan dengan cepat dan tetap mempertimbangkan prinsip kehati-hatian. Kami menetapkan tiga prioritas yaitu yang pertama keselamatan staf, untuk dapat memastikan layanan kepada pelanggan dan mitra bisnis, sehingga dengan demikian kami dapat menjaga kinerja. Dengan demikian, Allianz Indonesia tetap dapat menjalankan kegiatan operasional walaupun sekitar 95% karyawan bekerja dari rumah. Selain itu, kami juga selalu memantau dinamika kebijakan pemerintah agar dapat menyesuaikan aktivitas operasional sesuai dengan ketentuan yang ada,” jelas Adrianus.

Lebih lanjut katanya, kunci penting penerapan GRC untuk mencapai kondisi resilience antara lain dengan menerapkan kode etik sebagai dasar tingkah laku individu pelaksana penggerak perusahaan agar tetap menjaga prinsip kehati-hatian dalam menjalankan agenda yang telah dibuat, juga arah yang jelas. 

Organisasi perlu memiliki kerangka dan proses manajemen risiko, yang dimulai dengan memahami situasi dan mengidentifikasi risiko yang sedang dihadapi, dianalisa, dinilai dan kemudian respon atas risiko dilaksanakan. Penting untuk melibatkan seluruh elemen dalam kolaborasi, demikian juga menjaga komunikasi dan transparansi.

“Agar tetap resilience dan relevan dalam menghadapi ketidakpastian, sebagai satu kesatuan tim melakukan pengambilan keputusan yang mempertimbangkan risiko, menetapkan langkah prioritas yang akan diambil, kepatuhan atas regulasi yang berlaku, dikaji ulang secara berkala.  Diperlukan transparansi dan kolaborasi yang inklusif melibatkan semua elemen organisasi untuk terus bergerak sebagai satu kesatuan menghadapi tantangan," ungkap Adrianus.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini